Scroll untuk baca artikel
PendidikanBerita UnggulanBudayaLifestyle

Jejak Sosrokartono, Jenius Jawa yang Kian Dicari di Tengah Zaman Gelisah

×

Jejak Sosrokartono, Jenius Jawa yang Kian Dicari di Tengah Zaman Gelisah

Sebarkan artikel ini

Dari Eropa ke Kudus, warisan batin untuk masa depan manusia

Sosrokartono, jenius Jawa yang menguasai puluhan bahasa, meninggalkan warisan spiritual dan kemanusiaan yang relevan hingga kini. Foto: diambil dari Buku Karangan Aksan. "Ilmu dan Laku" Drs. RMP. Sosrokartono

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di sebuah rumah sederhana di Kudus, jejak seorang pemikir besar masih terasa sunyi namun hidup. Sosrokartono, jenius Jawa yang pernah mengguncang Eropa, meninggalkan warisan yang justru terasa makin relevan di tengah kegelisahan manusia modern.

Kunjungi Link ini 

Di balik penguasaannya atas puluhan bahasa dan reputasi internasional, ada kegelisahan yang sama dengan warga hari ini: bagaimana menjadi manusia utuh di tengah dunia yang terus berubah.

Akar Jawa, Pandangan Dunia

Lahir dari lingkungan bangsawan di Jepara, Sosrokartono tumbuh di antara dua arus besar: tradisi Jawa yang dalam dan modernitas Barat yang rasional.

Foto: Buku Karangan Aksan. “Ilmu dan Laku” Drs. RMP. Sosrokartono

Sejak kecil, ia menunjukkan rasa ingin tahu yang melampaui zamannya. Pendidikan yang ditempuhnya membawanya hingga ke Belanda, menjadikannya pelajar Indonesia pertama yang menembus Universitas Leiden.

Di sana, ia tidak sekadar belajar. Ia menyerap dunia. Menguasai lebih dari 20 bahasa asing, Sosrokartono menjadi jembatan hidup antara Timur dan Barat, sebuah posisi yang jarang dimiliki pada masa itu.

Dari Medan Perang ke Laku Sunyi

Nama Sosrokartono dikenal luas saat ia menjadi wartawan perang di Eropa. Ia meliput langsung Perang Dunia I untuk media internasional, menyaksikan dari dekat bagaimana ambisi manusia berujung kehancuran.

Pengalaman itu mengubah arah hidupnya.

Sekembalinya ke tanah air, ia tidak memilih panggung kekuasaan. Ia justru menepi. Dari kehidupan kosmopolitan di Eropa, ia beralih menjadi pribadi sederhana yang mengabdikan diri pada sesama.

Di Bandung hingga Kudus, ia dikenal sebagai tempat orang mencari ketenangan, bukan sekadar jawaban.

Ilmu Hidup yang Melampaui Zaman

Pemikiran Sosrokartono tidak lahir dari ruang kelas semata, melainkan dari perjumpaan panjang dengan kehidupan. Ia merumuskan nilai-nilai yang hingga kini terasa relevan.

Salah satunya adalah Ilmu Kantong Bolong, gagasan tentang memberi tanpa pamrih. Apa yang dimiliki manusia seharusnya mengalir kepada sesama, bukan berhenti sebagai simbol kepemilikan.

Ia juga mengenalkan Ilmu Alif, simbol keteguhan jiwa. Dalam pandangannya, manusia yang lurus batinnya tidak akan mudah goyah oleh perubahan dunia.

Konsep lain, Catur Murti, menekankan kesatuan antara pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan. Sebuah nilai yang terasa penting di tengah zaman yang sering terpecah antara apa yang dikatakan dan yang dilakukan.

Guru di Balik Layar Bangsa

Sosrokartono tidak berdiri di garis depan politik, namun pengaruhnya terasa dalam.

Ia menjadi tempat banyak tokoh besar mencari arah batin, termasuk kalangan pergerakan nasional. Rumahnya di Bandung pernah menjadi ruang sunyi yang justru melahirkan gagasan besar tentang kemerdekaan dan kemanusiaan.

Ia tidak mengajar secara formal. Namun dari dialog, laku hidup, dan keteladanan, ia menjadi “guru tanpa kelas” bagi generasi zamannya.

Foto: Buku Karangan Aksan. “Ilmu dan Laku” Drs. RMP. Sosrokartono

Pendidikan untuk Memanusiakan 

Perhatiannya pada pendidikan terlihat dari upayanya membuka ruang belajar bagi masyarakat.

Bagi Sosrokartono, pendidikan bukan sekadar alat untuk bekerja, tetapi jalan untuk membentuk manusia yang merdeka secara batin.

Gagasan ini terasa penting hari ini, ketika pendidikan sering terjebak pada angka dan capaian administratif, sementara dimensi kemanusiaan justru terpinggirkan.

Relevansi bagi Hari Ini

Dunia modern menghadapi krisis yang tidak selalu tampak: kegelisahan, kehilangan arah, hingga kecenderungan hidup yang berpusat pada diri sendiri.

Di titik ini, ajaran Sosrokartono menemukan maknanya kembali.

Nilai berbagi tanpa pamrih menjadi penyeimbang budaya pamer. Keteguhan batin menjadi penawar di tengah arus informasi yang tak henti. Dan keselarasan diri menjadi fondasi untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Warisan ini bukan sekadar milik masa lalu, tetapi bagian dari percakapan yang masih berlangsung hingga hari ini, termasuk bagi masyarakat Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai ruang hidup kebudayaan dan refleksi.

Foto: Penulis Berziarah Ke Makam RMP. SOSRO KARTONO

Jejak Sunyi yang Tetap Menyala

Menjelang akhir hayatnya, Sosrokartono memilih kembali ke Kudus. Ia meninggalkan dunia tanpa kemewahan, sesuai dengan nilai yang ia pegang sepanjang hidup.

Namun, gagasannya tidak ikut pergi.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, Sosrokartono hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan tanpa kedalaman batin hanya akan melahirkan kegelisahan baru.

Dan dari laku sunyi seorang manusia Jawa, lahir pelajaran sederhana: menjadi tegak seperti “Alif”, dan memberi seperti “kantong bolong”, tanpa henti.(Oi/Supriyadi)