Bantul, VoiceJogja.com – Senja di Masjid KH Ahmad Dahlan, Banguntapan, terasa lebih tenang menjelang berbuka. Jamaah duduk bersila, menyimak kisah panjang pengabdian seorang pendidik yang hidupnya dihabiskan untuk merawat ilmu dan akhlak.
H. Munasir Aziz hadir bukan sekadar mengisi pengajian Ramadan, tetapi membawa jejak dakwah yang melintasi Bali hingga kembali berlabuh di Yogyakarta. Di tengah perubahan zaman, kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi umat.

Dari IAIN ke Karangasem
Lulus dari IAIN Sunan Kalijaga pada 1986, H. Munasir Aziz mendapat amanah mengisi kekosongan tenaga pengajar di Karangasem, Bali. Sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Arab, ia memikul tanggung jawab besar di wilayah yang saat itu minim tenaga ahli.
“Tahun 1991, saya merupakan satu-satunya sarjana bahasa Arab di sana. Meskipun statusnya masih CPNS, saya sudah dipercaya untuk mengikuti pelatihan di Jakarta karena kebutuhan tenaga ahli yang sangat mendesak,” ungkapnya.
Pengabdiannya ikut mengawal perkembangan pendidikan Islam di Bali. Dari satu sekolah, tumbuh belasan madrasah tingkat MI, MTs, hingga MA yang kini menjadi tumpuan umat setempat.
Sekolah Kehidupan Bernama Toleransi
Bagi H. Munasir Aziz, Bali bukan hanya tempat tugas. Ia menyebutnya sebagai sekolah kehidupan yang mengajarkan toleransi dan kejujuran.
Ia mengenang pengalaman ketika tasnya tertinggal di transportasi umum dan kembali dalam kondisi utuh. Nilai kejujuran itu ia bawa dalam setiap dakwah, termasuk saat berbagi di Banguntapan.
Kisah tersebut terasa relevan bagi Jogja, kota yang hidup dari keberagaman dan tradisi dialog. Toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik keseharian yang harus dirawat bersama.

Pensiun dan Tetap Mengabdi
Setelah menyelesaikan pengabdian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2019, ia tak berhenti bergerak. Masa purna tugas justru diisi dengan pendampingan mualaf dan bimbingan agama bagi jamaah di lingkungan tempat tinggalnya.
Keputusan menetap di Yogyakarta didukung sang istri yang juga seorang pendidik. Kota Pelajar menjadi ruang pengabdian berikutnya, tempat ilmu terus dibagikan tanpa batas usia.
Di Banguntapan, kisah H. Munasir Aziz menegaskan bahwa dakwah dan pendidikan adalah kerja panjang yang tak mengenal masa pensiun. Jogja beruntung memiliki sosok-sosok yang memilih tetap menebar manfaat, menjaga nilai, dan merawat generasi dengan keteladanan.(Oi)














