Scroll untuk baca artikel
DaerahBudayaFavoritePeristiwa

Insan Perfilman Yogyakarta Perkuat Silaturahmi di Bulak Senthe

×

Insan Perfilman Yogyakarta Perkuat Silaturahmi di Bulak Senthe

Sebarkan artikel ini

Buka bersama komunitas film Jogja menjadi ruang temu lintas profesi dan penguat ekosistem kreatif lokal.

Insan perfilman Yogyakarta berkumpul di Bulak Senthe Sleman dalam buka bersama 2026 untuk mempererat silaturahmi dan menguatkan ekosistem film Jogja. foto: Istimewa

Sleman, Voicejogja.com – Sore menjelang berbuka di Bulak Senthe Resto, Pandowoharjo, Sleman, terasa lebih hangat dari biasanya. Tawa, obrolan santai, dan cerita produksi film mengalir di antara para pegiat layar lebar yang berkumpul dalam satu ruang kebersamaan.

Melalui acara Buka Bersama Insan Perfilman Yogyakarta 2026, komunitas film Jogja kembali merawat silaturahmi sekaligus menguatkan jaringan kreatif yang selama ini menjadi denyut penting industri film di kota budaya ini.

Insan perfilman Yogyakarta berkumpul di Bulak Senthe Sleman . Foto: Istimewa

Temu Kangen Komunitas Film Jogja

Sekitar 80 pegiat perfilman dari berbagai profesi hadir dalam kegiatan bertema “Satu Jiwa Satu Rasa Untuk Semua” yang digelar Minggu (15/3/2026).

Pertemuan ini bukan sekadar buka puasa bersama, tetapi juga ruang bertukar cerita antar-sutradara, kru produksi, aktor, hingga pelaku industri kreatif yang selama ini tumbuh bersama di Yogyakarta.

Ketua panitia, Ningsih, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta yang datang dari beragam latar belakang profesi perfilman.

Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antarpegiat film sebagai fondasi untuk memperkuat ekosistem perfilman di Jogja.

Silaturahmi sebagai Energi Kreatif

Menjelang waktu berbuka, suasana semakin khidmat saat Ustaz Saifuddin Zuhri menyampaikan tausiyah tentang makna silaturahmi.

Dalam pesannya, ia menjelaskan bahwa pertemuan semacam ini bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah yang memperkuat hubungan antarmanusia.

“Dengan silaturahmi, kita menyambung tali persaudaraan yang dapat memperpanjang umur dan memudahkan rezeki. Secara filosofis, Silah berarti menyambung dan Rohmi berasal dari sifat Allah Ar-Rahim,” ujar Saifuddin.

Menurutnya, ketika manusia menyambung hubungan persaudaraan, di saat yang sama mereka juga memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Foto: Istimewa

Nuansa Budaya dalam Kebersamaan

Kehangatan acara juga terasa melalui sentuhan budaya yang hadir sepanjang kegiatan.

Panitia mengenakan seragam biru dan kopiah, sementara Saifuddin Zuhri tampil dengan Surjan, pakaian tradisional yang sarat makna filosofis dan memiliki jejak sejarah panjang sejak masa Wali Songo.

Simbol-simbol budaya ini memperkuat identitas Jogja sebagai ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan kreativitas.

Dukungan Komunitas Lokal

Kegiatan ini turut didukung oleh mitra lokal Kopi Langit dan Madu Langit yang menjadi sponsor acara.

Selain menikmati hidangan berbuka, para peserta juga disuguhi hiburan musik serta pembagian doorprize yang menambah suasana semakin akrab.

Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan perfilman Yogyakarta tidak hanya terletak pada karya di layar, tetapi juga pada solidaritas komunitas yang terus dirawat dari waktu ke waktu.

Di tengah dinamika industri kreatif, kebersamaan semacam ini menjadi ruang penting bagi para pegiat film untuk menjaga energi kolaborasi dan semangat berkarya di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat kreativitas Indonesia.(Oi)