SLEMAN, voicejogja.com – Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan (UPN) Veteran Yogyakarta bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Kamis 22 Januari 2026 berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta.
Kegiatan Seminar Nasional yang diawali dengan pertunjukan Tari tradisional Sekar Pudyastuti, dihadiri Dekan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta Budi Widayanto, Ketua Panitia Seminar Muhamad Kundarto, Ketua Umum GAPKI Edy Martono.
Narasumber : Prof Budi Mulyanto, Prof Bustanul Arifin, Prof Yanto Santoso, Prof Zulkarnain. Pembahas : Prof M. Nurcholis, Dr. Eko Murdiyanto, Moderator Prof Susila Herlambang, tamu undangan dosen mahasiswa serta peserta dari masyarakat umum.
Ketua panitia Seminar Nasional, Muhamad Kundarto. Ia melaporkan Seminar Nasional dengan tema Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan dilaksanakan secara hibrid melalu daring dan luring menggunakan saluran Zoom dan YouTube.
Dia merinci, seminar dikuti oleh 543 peserta dengan 160 peserta secara langsung di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN Yogyakarta, peserta lainnya mengikuti secara online. Peserta berasal dari akademisi dosen dan mahasiswa, peneliti, pemerhati sawit , para ahli beserta masyarakat umum.
“Kami berharap seminar ini bisa menghasilkan langkah positif dalam mengembangkan komoditas kelapa sawit di Indonesia, untuk bisa memberi manfaat secara ekonomi, sosial dan lingkungan,” kata Kundarto.
Disebut Kundarto, paparan dari Narasumber dan pembahas serta masukan dari perseta diharapkan semakin melengkapi apa yang berikutnya harus dilakukan dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang menyejahterakan dan berkelanjutan.
Selanjutnya Kundarto juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh panitia yang terdiri dari dosen mahasiswa dan alumni namun didominasi generasi Z yang telah maksimal mempersiapkan dari awal sampai terselenggaranya kegiatan.
“Mewakili panitia juga mohon maaf apabila dalam penyambutan dan penyelanggara seminar yang berlangsung kurang berkenan.” tambahnya.

Dekan Fakultas Pertanian UPN veteran Yogyakarta, Budi Widayanto, mengucapkan selamat datang kepada narasumber, pembahas peneliti dan peserta seminar di kampus Bela Negara. Apresiasi yang tinggi kepada para peserta atas antusiasme yang tinggi untuk mengikuti seminar.
Menurutnya, ternyata sawit menarik banyak pemikiran semangat karena sawit memiliki prediksi sehingga sawit mendapatkan stigma negatif bahwa tanaman sawit mendegradasi hutan sehingga menimbulkan bencana banjir dan sebagainnya. Namun pada kenyataannya sawit memiliki nilai sangat tinggi dalam pertumbuhan ekonomi global. Tampa disadari kita setiap hari bersentuhan dengan sawit.
“Harapannya pada pertemuan kita ini bisa menemukan titik primal sehingga sawit bisa dilihat kemanfaatannya dari sisi ekonomi, sosial, dilingkungan,” ujar Budi Widayanto.
Ketua umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Edy Martono. Pihaknya menyampaikan seminar cukup menarik luar biasa bagaimana sawit Indonesia dari perspektif para narasumber dengan tema Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi Sosial dan Lingkungan.
Dituturkan Edy, tema ini sangat relevan bukan hanya sawit sebagai komoditas strategis Nasional yang memberikan peranan penting dalam aspek ekonomi sebagai sumber pendapatan Negara dan masyarakat.
Sawit lanjutnya, merupakan penyumbang devisa kedua setelah batubara. Dari aspek sosial menyerap banyak tenaga kerja, serta aspek lingkungan.
Namun demikian industri sawit dalam aspek lingkungan saat ini dalam pusaran sorotan publik yang luar biasa. Khususnya terjadinya bencana banjir di Sumatera. Kemudian ketiga aspek tadi akan menjadi topik bahasan para narasumber seminar hari ini.
“Yang kami harapkan akan meningkatkan pemahaman kita atas industri sawit ini,” tutur ketua GAPKI.
Masih beber Edy, sampai dengan saat ini industri Sawit tetap memiliki peranan penting pada perekonomian Indonesia. Sawit menjadikan penyumbang devisa terbesar kedua setelah batu bara. Kemudian tenaga kerja langsung 5 juta yang terlibat 16.5 juta tenaga kerja.
Menurutnya, kontribusi Sawit yang memberikan lapangan kerja cukup besar, namun jika terus menerus dihujat dengan kampanye negatif tentu akan memberikan dampak kurang baik pada industri sawit.
“Jangan sampai hal ini terjadi pada industri sawit Indonesia,” tegasnya.
Ia menilai Industri sawit di Indonesia telah berkontribusi nyata dalam pembangunan negara. Banyak lokasi terpencil, pelosok dengan infrastruktur yang sangat minim bahkan nyaris tidak ada, ketika Perusahaan Industri sawit melakukan penetrasi di wilayah terpencil tersebut dengan perjuangan yang berliku akhirnya bisa membuka lokasi tersebut. Saat lokasi bisa berhasil dibuka otomatis wilayah memiliki akses dengan dunia luar, maka akan mempercepat pembangunan wilayah tersebut.
“Yang jelas ya, hadirnya industri sawit di daerah terpencil bisa membuka akses pembangunan,” pungkas Edy Martono. (Kus/Mbah M)
Editor : Mukhlisin Mustofa/Red














