Gondomanan, VoiceJogja.com – Lampion merah menyala hangat di Kelenteng Fuk Ling Miau, Gondomanan, Senin malam (16/2). Di tengah perayaan Imlek 2577 Tahun Kuda Api, warga Yogyakarta tak hanya berdoa, tetapi juga menegaskan makna toleransi dan kebersamaan yang menjadi napas kota ini.
Bagi Jogja, Imlek bukan sekadar perayaan etnis atau agama. Ia menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah fondasi sosial yang menjaga kota tetap teduh dan saling menghormati.

Harmoni Imlek Nusantara di Gondomanan
Perayaan bertajuk “Harmoni Imlek Nusantara” menghadirkan berbagai elemen masyarakat. Suasana hangat terasa di Jl. Brigjend Katamso sejak pukul 19.30 WIB, dengan para tamu mengenakan busana bernuansa merah.
Komunitas SatSet Geliat Putri Mataram turut hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk nyata semangat kebangsaan dan toleransi antarumat beragama.
“Prinsip saya, kita tetap NKRI. Kita berkumpul bersama, bahagia, dan nyaman merayakan malam Imlek ini tanpa tendensi apa pun,” ujar Mbak Ros di sela acara.
Koordinator kegiatan SatSet, Ipung, menegaskan bahwa nilai Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan melalui aksi nyata, bukan sekadar slogan.

Dari Bersih Kelenteng hingga Edukasi Sampah
Sebelum malam perayaan, komunitas SatSet yang beranggotakan sekitar 150 orang (didominasi ibu-ibu) menggelar aksi bersih-bersih di Kelenteng Fuk Ling Miau pada Kamis sebelumnya.
Komunitas yang berdiri sejak Maret 2025 ini memiliki fokus pada isu lingkungan dan sosial. Aksi lintas agama menjadi salah satu kegiatan rutin mereka, termasuk bersih-bersih di gereja Wedomartani, pura, hingga beberapa masjid.
Selain itu, mereka aktif membersihkan area publik seperti Ring Road, Stadion Maguwoharjo, Selokan Mataram, hingga Kali Code.
Edukasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga juga menjadi perhatian utama. Bagi mereka, persoalan sampah di Yogyakarta tidak bisa diselesaikan tanpa perubahan perilaku warga.

Imlek dan Masa Depan Jogja yang Inklusif
Perayaan Imlek 2577 di Kelenteng Fuk Ling Miau memperlihatkan wajah Jogja yang inklusif. Di satu sisi, tradisi dirayakan dengan khidmat. Di sisi lain, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan ditegaskan sebagai tanggung jawab bersama.
Momentum ini memperlihatkan bahwa toleransi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan seiring. Jogja tidak hanya merawat kerukunan, tetapi juga berupaya menjaga ruang hidupnya tetap bersih dan nyaman.
Komunitas seperti SatSet menjadi contoh bahwa semangat kebangsaan dapat diterjemahkan dalam aksi sederhana namun konsisten.
Di tengah tantangan sosial dan lingkungan, perayaan Imlek di Yogyakarta tahun ini mengingatkan bahwa masa depan kota bergantung pada kemauan warganya untuk saling menghormati dan menjaga bumi yang sama. (Oi)














