Jakarta, Voicejogja.com – Menjelang akhir Ramadan, kepastian hari raya menjadi kabar yang paling dinanti banyak keluarga. Tahun ini, Idulfitri 2026 hadir dengan satu kepastian yang menenangkan—dirayakan serentak di kawasan Asia Tenggara.
Bagi warga Jogja, keserentakan ini bukan sekadar penanggalan, tetapi juga momen kebersamaan yang terasa lebih utuh, dari ruang keluarga hingga tempat ibadah.
Kesepakatan Serentakk Negara MABIMS
Negara anggota MABIMS—Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura—menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan ini disampaikan Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, usai Sidang Isbat di Jakarta.
“Negara-negara MABIMS secara umum menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada tanggal yang sama,” ujarnya.
Belajar Produk digital, Klik Disini
Dasar Ilmiah dan Pengamatan Lapangan
Kesamaan ini tidak terjadi begitu saja. Penetapan didasarkan pada kriteria visibilitas hilal yang digunakan bersama di kawasan MABIMS.
Parameter tersebut mencakup tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Data hisab menunjukkan posisi hilal di Indonesia masih berada pada rentang yang belum sepenuhnya memenuhi kriteria, terutama pada aspek elongasi.
Kondisi ini diperkuat hasil rukyat di berbagai titik pemantauan yang tidak berhasil melihat hilal.
“Karena hilal tidak memenuhi kriteria visibilitas dan tidak berhasil dirukyat, maka penetapan awal Syawal dilakukan dengan istikmal,” jelas Abu Rokhmad.
Harmoni Kalender dan Kepercayaan Publik
Penetapan serentak ini juga terjadi di negara lain dalam MABIMS.
Malaysia menetapkan Idulfitri pada tanggal yang sama setelah pemantauan hilal dan persetujuan Majlis Raja-Raja. Brunei Darussalam dan Singapura pun mengambil keputusan serupa karena hilal tidak terlihat.
Kesamaan ini menjadi indikator bahwa metode hisab dan rukyat yang digunakan bersama semakin matang dan selaras.
“Ini menjadi momentum penting dalam memperkuat ukhuwah dan kebersamaan umat Islam di kawasan Asia Tenggara,” tegas Abu Rokhmad.
Bagi masyarakat Jogja, kepastian ini memberi ruang perencanaan yang lebih tenang—mulai dari mudik, silaturahmi, hingga aktivitas ekonomi yang mengikuti ritme Lebaran.(Oi)
Sumber: Kemenag














