Yogyakarta, VoiceJogja.com – Hujan yang turun tak lagi bisa ditebak polanya. Di tengah cuaca ekstrem yang belakangan menyelimuti Yogyakarta, kewaspadaan menjadi kunci agar kota tetap aman dan warganya terlindungi. Di balik aliran sungai yang tampak tenang, pemantauan dilakukan tanpa henti.
Cuaca ekstrem dengan curah hujan yang meningkat kembali menjadi perhatian warga Yogyakarta. Kondisi ini membawa potensi bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir dan genangan, hingga angin kencang dan longsor di sejumlah titik rawan.
Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja.
Upaya kewaspadaan itu diwujudkan melalui pemantauan intensif kondisi sungai di wilayah kota. Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto, menyampaikan bahwa pengawasan dilakukan secara real-time melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop).
Debit dan ketinggian air di Sungai Gajah Wong, Sungai Code, Sungai Winongo, serta wilayah hulu di Ngentak, Sleman, dipantau menggunakan alat telemetri yang bekerja sepanjang waktu.

Hingga saat ini, hasil pemantauan belum menunjukkan kenaikan debit air yang signifikan maupun kondisi luar biasa yang berpotensi memicu banjir di Kota Yogyakarta.
Namun, hujan yang masih sering turun membuat debit air bersifat fluktuatif dan tetap perlu diwaspadai. Pola hujan yang tidak menentu, dengan intensitas sedang hingga lebat yang muncul secara berkala, menjadi ciri cuaca ekstrem belakangan ini.
BPBD juga terus mencermati informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat pembentukan awan hujan cukup tinggi di wilayah Yogyakarta. Situasi ini berpotensi memicu hujan lebat disertai kilat, angin kencang, serta peningkatan aliran air di sungai-sungai kecil yang melintasi kawasan permukiman.
Dalam konteks kehidupan warga, risiko yang mengintai tidak selalu berupa banjir besar. Genangan lokal bisa muncul akibat sistem drainase yang tak mampu menampung air hujan dalam waktu singkat.
Warga yang tinggal di bantaran sungai juga diingatkan untuk lebih waspada, terutama ketika hujan turun di wilayah hulu. Ancaman lain datang dari angin kencang dan petir yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun kerusakan atap rumah.
BPBD turut menyoroti potensi longsor talud di kawasan permukiman bantaran sungai, khususnya jika hujan dengan curah tinggi terjadi secara berulang. Sebagai langkah mitigasi, pemantauan sungai dilakukan selama 24 jam melalui alat telemetri di titik-titik strategis sebagai sistem deteksi dini.
Koordinasi dengan BMKG dan instansi terkait juga terus diperkuat untuk memastikan pembaruan peringatan cuaca dapat segera diteruskan kepada masyarakat.
Sistem Early Warning System (EWS) disiagakan untuk memberi peringatan ketika kondisi sungai mencapai ambang risiko banjir. Di tingkat regional, BPBD Kota Yogyakarta juga berpartisipasi dalam penguatan kesiapsiagaan Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk dalam penetapan status siaga bencana hidrometeorologi pada beberapa periode musim hujan sebelumnya.
Kepada warga, BPBD menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi, mengenali titik rawan di lingkungan masing-masing, serta menjaga kebersihan saluran drainase dan sungai.
Kesiapan sederhana di rumah, seperti menyiapkan senter, obat-obatan, makanan tahan lama, dan kontak darurat, menjadi bagian dari ikhtiar bersama menjaga keselamatan. Di tengah cuaca yang kian sulit diprediksi, keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama bagi Jogja dan warganya.
Sumber: warta.jogjakota.go.id














