Yogyakarta, Voicejogja.com – Masa depan sebuah bangsa sering kali ditentukan dari kualitas generasi mudanya hari ini. Di tengah peluang besar bonus demografi, perhatian pada kesehatan dan kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang semakin penting.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan stunting, sebuah langkah yang dinilai penting agar Indonesia mampu memanfaatkan momentum demografi secara optimal.

Bonus Demografi dan Tanggung Jawab Generasi Muda
Ajakan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi narasumber dalam Kajian Iftar di Masjid Mardliyyah Islamic Center UGM, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, Indonesia saat ini sedang berada dalam fase bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding kelompok usia lainnya.
Namun peluang itu hanya akan membawa kesejahteraan jika kualitas generasi muda dipersiapkan dengan baik.
“Bonus demografi bisa membawa masyarakat menuju kesejahteraan, tetapi juga bisa menjadi bencana demografi jika kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik. Penentunya adalah generasi muda saat ini,” ujar Hasto.
Generasi Sandwich dan Tantangan Masa Depan
Hasto menggambarkan generasi muda saat ini sebagai generasi sandwich yang memikul tanggung jawab besar.
Di satu sisi mereka menjadi penopang orang tua, sementara di sisi lain mereka juga akan menjadi fondasi bagi generasi berikutnya.
Untuk mewujudkan visi Indonesia maju 2045, ia menekankan pentingnya generasi yang sehat, tidak mengalami stunting, tidak putus sekolah, serta memiliki produktivitas kerja yang baik.
Stunting dan Kualitas SDM
Dalam paparannya, Hasto juga menyinggung pendekatan Human Capital Index (HCI) yang menilai sejauh mana kualitas manusia dapat berkontribusi pada produktivitas pembangunan.
Salah satu faktor yang sangat memengaruhi kualitas sumber daya manusia adalah stunting pada anak usia di bawah lima tahun.
“Stunting tidak hanya dipengaruhi oleh kekurangan makanan. Sekitar 70 persen penyebabnya adalah faktor sensitif seperti lingkungan, sanitasi, air bersih, pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga,” jelasnya.
Sementara itu, sekitar 30 persen penyebab stunting berasal dari faktor spesifik seperti kekurangan gizi atau penyakit.

Pencegahan Dimulai Sebelum Pernikahan
Karena itu, upaya pencegahan stunting menurut Hasto perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perbaikan lingkungan hingga pola pengasuhan anak.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan calon pengantin sebagai bagian dari langkah pencegahan sejak dini.
“Pencegahan stunting harus dimulai sejak pra-konsepsi, bahkan sebelum menikah. Kondisi kesehatan calon ibu harus dipastikan baik agar anak yang lahir tumbuh sehat,” katanya.
Perkembangan Penurunan Stunting di Jogja
Hasto juga memaparkan perkembangan penanganan stunting di Kota Yogyakarta.
Berdasarkan data yang disampaikan, angka stunting di kota ini berhasil ditekan dari 14,8 persen pada 2024 menjadi sekitar 8,2 persen pada 2025.
Penurunan tersebut dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari pendataan calon pengantin, pemantauan ibu hamil, hingga intervensi gizi bagi kelompok berisiko.
Melalui dialog bersama mahasiswa di UGM, Hasto berharap generasi muda semakin memahami bahwa menjaga kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup sejak dini merupakan bagian penting dalam menyiapkan masa depan generasi Indonesia.(Oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id














