Yogyakarta, VoiceJogja.com – Awal 2026 membawa kabar yang relatif menenangkan bagi warga Kota Yogyakarta. Harga kebutuhan pokok tercatat turun secara bulanan, memberi ruang napas setelah tekanan di penghujung tahun. Meski demikian, kewaspadaan mulai disiapkan sejak dini, seiring mendekatnya Ramadan yang kerap menjadi fase sensitif bagi stabilitas harga pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat terjadinya deflasi pada Januari 2026 sebesar 0,14 persen secara bulanan. Penurunan ini mencerminkan kondisi pasar yang relatif stabil pascalibur panjang akhir tahun, sekaligus menandai fase penyesuaian setelah lonjakan harga pada Desember.

Statistisi Ahli Madya BPS Kota Yogyakarta, Fandi Akhmad, menjelaskan bahwa meski secara bulanan terjadi deflasi, secara tahunan Kota Yogyakarta masih mencatat inflasi sebesar 3,55 persen dibandingkan Januari tahun sebelumnya. Menurutnya, dua indikator tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang masih berada dalam koridor terkendali.
Deflasi Januari terutama ditopang oleh kelompok makanan dan minuman. Sejumlah komoditas yang memberi andil besar antara lain cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah. Fandi menyebut tren ini lazim terjadi setelah periode permintaan tinggi pada Natal, Tahun Baru, dan libur sekolah.
Namun fase penurunan ini diperkirakan bersifat sementara. Memasuki bulan puasa, harga pangan berpotensi kembali bergerak naik, disusul tekanan dari sektor transportasi menjelang Idulfitri. Kondisi tersebut menjadi faktor yang perlu diantisipasi sejak awal agar lonjakan harga tidak membebani masyarakat.
Dalam konteks itu, peran pemerintah daerah dinilai krusial. Fandi menekankan pentingnya pengawasan distribusi serta ketersediaan stok di pasar, terutama pada Februari dan Maret ketika permintaan cenderung meningkat. Pengendalian yang konsisten diyakini dapat menahan laju kenaikan harga.
Pemantauan di lapangan memperkuat gambaran tersebut. Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Riswanti, menyampaikan bahwa harga pangan memang cenderung turun usai libur panjang. Cabai, misalnya, sempat berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram, meski belakangan kembali naik, khususnya cabai rawit yang menyentuh sekitar Rp60 ribu per kilogram.

Menurutnya, faktor cuaca yang tidak menentu pada musim hujan turut memengaruhi dinamika pasokan. Sementara itu, beberapa komoditas lain seperti beras, gula pasir, dan minyak goreng curah mengalami kenaikan tipis. Untuk menjaga stabilitas, pemerintah memanfaatkan penugasan distribusi MinyakKita dan beras SPHP dari Bulog, serta mengintensifkan operasi pasar di pasar rakyat.
Sebagai langkah konkret menjelang Ramadan, Pemerintah Kota Yogyakarta telah menjadwalkan pasar murah di 14 kemantren mulai 6 Februari. Upaya ini diarahkan untuk menjaga daya beli warga sekaligus memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau.
Dengan kombinasi data statistik, pemantauan lapangan, dan intervensi pasar, Kota Yogyakarta berupaya menempatkan stabilitas harga sebagai bagian dari kepentingan publik. Bagi warga, kebijakan ini bukan semata soal angka inflasi, melainkan tentang rasa aman dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah siklus musiman yang terus berulang.
sumber: warta.jogjakota.go.id














