Scroll untuk baca artikel
DaerahFavoritePemerintahPeristiwa

Gunungkidul Uji Teknologi Phyragas Hybrid Atasi Krisis Sampah

×

Gunungkidul Uji Teknologi Phyragas Hybrid Atasi Krisis Sampah

Sebarkan artikel ini

Dari limbah rumah tangga hingga sampah wisata, Gunungkidul mulai mencari solusi yang lebih berkelanjutan.

Gunungkidul uji teknologi Phyragas Hybrid untuk mengatasi krisis sampah sekaligus membuka peluang ekonomi warga.
Gunungkidul uji teknologi Phyragas Hybrid untuk mengatasi krisis sampah sekaligus membuka peluang ekonomi warga. Foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Gunungkidul, Voicejogja.com Tumpukan sampah yang terus bertambah di kawasan wisata, pasar, hingga permukiman menjadi persoalan yang makin dekat dengan kehidupan warga Gunungkidul. Di tengah keterbatasan fasilitas pengolahan, sebuah teknologi ramah lingkungan mulai diuji coba sebagai harapan baru untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.

Kamis (7/5/2026), Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mencoba mesin pengolah sampah metode Phyragas Hybrid di Dusun Banyumanik, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu.

Teknologi Pengolah Sampah Tanpa Pemilahan

Uji coba tersebut dipantau langsung Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto. Teknologi Phyragas Hybrid dinilai menawarkan solusi praktis karena mampu mengolah sampah tanpa proses pemilahan awal yang selama ini kerap menjadi kendala di masyarakat.

Pendamping teknisi unit pengolahan sampah Banyumanik, Iriawan Djati Asmoro, menjelaskan teknologi ini merupakan hasil riset selama 16 tahun bersama para ahli.

Menurutnya, mesin Phyragas Hybrid dapat disesuaikan dengan berbagai kebutuhan, mulai dari skala kecil seperti sekolah dan perumahan hingga skala desa.

“Melalui sistem penguapan atau metode kukus gas panas, sampah yang masuk akan diolah menjadi arang,” jelas Iriawan.

Sampah Diubah Menjadi Nilai Ekonomi

Residu hasil pengolahan nantinya dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku briket, batako, hingga pupuk kompos. Teknologi ini juga menghasilkan produk sampingan lain seperti pakan ternak dari limbah organik.

Selain itu, asap panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pengering biji-bijian dan sumber energi listrik.

Model pengolahan seperti ini dinilai tidak hanya menyasar persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga melalui sektor UMKM dan pertanian.

Gunungkidul Hadapi Tekanan Sampah

Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, menilai persoalan sampah di wilayahnya sudah membutuhkan langkah nyata dan berkelanjutan.

Tingginya volume limbah rumah tangga, sampah pasar, hingga meningkatnya aktivitas pariwisata belum sebanding dengan kapasitas fasilitas pengolahan sampah yang tersedia saat ini.

Joko juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sebagai tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan.

Karena itu, teknologi yang mampu mengolah sampah secara langsung dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi daerah.

Arah Baru Pengelolaan Lingkungan

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan mesin pengolah sampah tersebut agar dapat menjadi proyek percontohan tingkat nasional.

Melalui kerja sama lintas sektor, program ini diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.

Bagi Gunungkidul, pengelolaan sampah bukan lagi sekadar urusan kebersihan. Ia mulai menjadi bagian penting dari upaya menjaga masa depan lingkungan, pariwisata, dan kualitas hidup warga .(Oi)

Sumber: gunungkidulkab.go.id