Yogyakarta, VoiceJogja.com – Dari sebuah rumah di Kotabaru, kisah tentang kehilangan, trauma, dan teror psikologis bersiap melangkah jauh hingga Paris. Film Pintu Belakang lahir dari Yogyakarta, membawa harapan baru bagi perfilman lokal untuk tampil di panggung internasional.
Di tengah geliat industri kreatif Jogja, proyek ini bukan sekadar produksi layar lebar. Ia menjadi penanda bahwa kota budaya ini terus melahirkan karya yang berani bereksplorasi dan menatap dunia.

Adaptasi Novel Nyis
Pintu Belakang diproduksi Bintang Cahaya Sinema dan dijadwalkan memulai proses syuting pada 23 Februari 2026. Produksi ditargetkan rampung jelang Hari Raya Idulfitri 2026.
Film bergenre semi horor ini diangkat dari novel Nyis karya Alex Suhendra. Ceritanya berpusat pada pasangan suami istri, Koci dan Kumbu, yang tinggal di desa terpencil.
Kehidupan mereka berubah setelah kehilangan bayi saat persalinan. Dalam suasana duka, mereka merawat seorang anak misterius bernama Nyis, yang selamat dari tragedi berdarah dan mengalami trauma berat hingga kehilangan ingatan.
Teror psikologis kemudian hadir ketika masa lalu Nyis perlahan terkuak. Sosok makhluk yang ditakuti Nyis kerap muncul melalui pintu belakang rumah, membangun ketegangan yang menjadi inti cerita.
Tantangan Baru di Genre Semi Honor
Konferensi pers digelar di The House of Den Baguse, Jalan Sabirin, Kotabaru, Yogyakarta, Minggu 22 Februari 2026. Sejumlah pihak hadir, termasuk BW Purbanegara, Alex Suhendra, Matino Lio, Zulfa Maharani, Iva Deivana, serta jajaran produser.
Sutradara sekaligus penulis skenario mengaku telah membaca novel tersebut sejak 2021. Adaptasi baru terwujud pada 2025 setelah menemukan mitra produksi yang siap menggarapnya.
“Selama ini saya banyak membuat film drama. Ini pertama kalinya saya membuat film bergenre semi horor. Saya merasa tertantang untuk menyajikan tontonan yang spesial dan memperkaya khazanah film Indonesia,” ujarnya.
Bagi perfilman Jogja, langkah ini memperluas spektrum genre sekaligus memperkuat posisi kota ini sebagai ruang kreatif yang terus berevolusi.
Menuju Festival Film Paris 2026
CEO Bintang Cahaya Sinema, Rizka Shakira, menyampaikan optimisme terhadap proyek ini. Proses produksi ditargetkan selesai bulan depan.
Film Pintu Belakang direncanakan didaftarkan ke festival film internasional di Paris, Prancis, pada Mei 2026. Target tersebut menjadi langkah strategis membawa karya dari Yogyakarta ke forum global.

Alex Suhendra menyebut Nyis sebagai karya ketiganya yang diangkat ke layar lebar. Ia berharap adaptasi ini menghadirkan nuansa baru sekaligus memperluas jangkauan pembaca novel ke penonton film nasional.
Jogja dan Masa Depan Indistri Kreatif
Kehadiran Pintu Belakang menegaskan bahwa Yogyakarta bukan hanya kota pelajar dan budaya, tetapi juga ruang tumbuh industri film yang serius.
Di tengah persaingan industri kreatif nasional, keberanian mengeksplorasi genre semi horor dengan balutan drama keluarga menunjukkan kematangan ekosistem kreatif Jogja.
Jika langkah menuju Festival Film Paris 2026 terwujud, ia akan menjadi simbol bahwa karya dari kota ini mampu berbicara di panggung internasional, tanpa kehilangan akar cerita dan kepekaan manusiawinya.(Oi)














