Yogyakarta, Voicejogja.com – Di sudut Kampung Patangpuluhan, suara gamelan masih bertahan di antara rumah-rumah warga. Anak-anak sesekali berhenti menonton, sementara para sesepuh menjaga irama yang tak hanya tentang musik, tetapi tentang warisan.
Di tengah perubahan kota, ruang-ruang seperti ini menjadi penanda penting: budaya hidup ketika ada yang meneruskan, dan ekonomi tumbuh ketika warga saling menguatkan.
Menjaga Akar, Menyiapkan Generasi
Kegiatan “Warga Istimewa” di Wirobrajan mempertemukan berbagai potensi lokal, dari kesenian tradisi hingga inisiatif lingkungan. Di ruang ini, budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi dijaga sebagai bagian dari kehidupan warga.
Ketua DPRD Kota Yogyakarta, FX Wisnu Sabdono Putro, menyoroti keberlanjutan kelompok karawitan dan ketoprak yang telah lama hidup secara swadaya.
“Kesenian ini sudah ada sejak lama, bahkan sudah ada NIK untuk kelompok ketopraknya, namun untuk karawitan perlu kita dorong terus. Fokus kita adalah bagaimana anak-anak muda bisa tertarik untuk meneruskan,” ujarnya.
Dorongan regenerasi menjadi kunci, agar pengetahuan yang dimiliki generasi sepuh tidak berhenti di satu masa.
Dari Kampung ke Panggung Kota
Upaya penguatan tidak berhenti pada pelestarian. Ada langkah untuk membawa potensi kampung ke ruang yang lebih luas melalui kolaborasi dengan dinas terkait.
“Kami sudah sampaikan ke Dinas Kebudayaan agar potensi-potensi ini bisa dibawa ke event-event resmi tingkat kota,” lanjut Wisnu.
Bagi Jogja, langkah ini bukan sekadar promosi, tetapi cara memastikan bahwa budaya kampung tetap relevan dan memiliki ruang berkembang tanpa harus meninggalkan akarnya.
Ekonomi Mandiri dari Warga
Selain budaya, kemandirian ekonomi juga tumbuh dari inisiatif warga. Produksi jamu menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan yang terus dijaga.
Anggota Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Endro Sulaksono, melihat hal ini sebagai kekuatan sosial yang nyata.
Ia juga menyoroti pengelolaan sampah mandiri yang berkembang di wilayah tersebut.
“Melalui Bank Sampah Anugerah, warga saling bergotong-royong mengolah sampah organik dan non-organik dari sumbernya,” jelasnya.
Lingkungan sebagai Bagian dari Ketahanan Sosial
Pengolahan sampah yang dilakukan warga tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mengurangi beban sampah ke depo kota.
Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos hingga pakan maggot, menunjukkan bahwa solusi bisa lahir dari tingkat kampung.
Di Yogyakarta, praktik seperti ini menjadi contoh bahwa isu lingkungan dapat diselesaikan melalui partisipasi warga, bukan hanya kebijakan.
Jogja yang Tumbuh dari Kampung
Apa yang terjadi di Wirobrajan memperlihatkan wajah Jogja yang sesungguhnya, kota yang tumbuh dari kekuatan komunitasnya.
Budaya yang diwariskan, ekonomi yang dibangun, dan lingkungan yang dijaga, semuanya bertemu dalam satu ekosistem yang hidup.
Di ruang-ruang kampung seperti ini, masa depan Yogyakarta tidak hanya direncanakan, tetapi sedang dijalankan perlahan oleh warganya sendiri (Oi)
Sumber: dprd.jogjakota.go.id














