Yogyakarta, VoiceJogja.com – Suporter PSIM Yogyakarta menahan napas ketika laga tandang melawan Persik Kediri berakhir imbang 2-2. Di tengah tensi pertandingan pekan ke-21 BRI Super League 2025/26 itu, satu wajah baru tampil penuh selama 90 menit: Jop Van Der Avert.
Debut Jop Van Der Avert bersama PSIM bukan sekadar catatan statistik. Bagi Laskar Mataram dan pendukungnya, kehadiran bek tengah asal Belanda ini menjadi bagian dari harapan menjaga konsistensi tim di kompetisi yang kian kompetitif.
Tampil Penuh di Laga Tandang
Jop dimainkan sejak awal saat PSIM bertandang ke Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jumat (13/2). Pelatih Jean Paul Van Gastel mempercayainya berduet dengan Franco Ramos yang mengenakan ban kapten.
Selama 90 menit, Jop langsung merasakan ritme permainan dan atmosfer pertandingan di Indonesia. Hasil imbang 2-2 menjadi panggung awal adaptasinya di BRI Super League 2025/26.
“Tentu saja ini pertandingan pertama, jadi saya rasa saya perlu membiasakan diri dengan sepak bola Indonesia. Semuanya berjalan lancar dan saya mulai terbiasa dengan cuacanya,” ujar Jop Van Der Avert.
Adaptasi dengan Sepak Bola Indonesia
Meski baru menjalani debut, Jop mengaku sudah lama mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia. Ia banyak menonton pertandingan karena sejumlah rekannya juga bermain di kompetisi Tanah Air.
“Saya banyak menonton pertandingan karena teman-teman saya juga bermain di Indonesia, jadi saya melihat beberapa laga, tapi selalu berbeda jika Anda sendiri yang berada di lapangan,” tambahnya.
Menurutnya, liga di Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif. Kehadiran banyak pemain asing di tiap tim juga memudahkan komunikasi dan proses adaptasi di dalam skuad.
“Saya rasa liga ini sedang berkembang, jadi menurut saya itu hal yang sangat bagus. Saya rasa di sini lebih baik karena tim punya lebih banyak pemain asing, jadi saya bisa berkomunikasi dengan lebih mudah,” ungkapnya.
Tantangan Cuaca dan Peoses Mengenal Tim
Pemain kelahiran 11 Mei 2000 itu menilai proses adaptasi bukan hanya soal taktik dan strategi. Mengenal seluruh anggota tim dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru menjadi tantangan tersendiri.
“Semuanya berjalan lancar. Saya mulai terbiasa dengan cuacanya. Lingkungannya menyenangkan, jadi ya, saya merasa sangat baik,” jelas Jop.
Cuaca panas Indonesia menjadi salah satu aspek yang paling menonjol dalam proses penyesuaiannya. Namun ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan profesional yang harus dijalani.
Harapan untuk PSIM dan Jogja
Bagi PSIM Yogyakarta, debut Jop Van Der Avert menandai langkah memperkuat lini pertahanan di tengah ketatnya persaingan BRI Super League 2025/26. Stabilitas di sektor belakang menjadi kunci agar tim mampu menjaga posisi dan konsistensi permainan.
Di mata publik Jogja, setiap pemain yang mengenakan seragam PSIM bukan sekadar profesional, tetapi bagian dari identitas kota. Adaptasi Jop yang berjalan lancar menjadi modal penting untuk membangun chemistry dan rasa percaya diri tim.
Ketika pemain asing mulai merasa nyaman dengan atmosfer Indonesia dan dukungan suporter, itu bukan hanya soal hasil pertandingan. Itu tentang bagaimana Jogja terus tumbuh sebagai rumah bagi talenta sepak bola yang ingin berkembang bersama. (Oi)
Sumber: Ileague.id














