Yogyakarta, VoiceJogja.com – Di balik sorot lampu dan suara lantang seorang MC, ada perjalanan panjang yang jarang terlihat. Dwiyana Wijaya, yang akrab disapa Yana, memulai langkahnya bukan dari panggung besar, melainkan dari ruang fotokopi.
Kegelisahan di zona nyaman justru menjadi titik tolaknya. Dari pengalaman sederhana itu, Yana membuktikan bahwa keberanian mengambil peluang bisa mengubah arah hidup, dan menginspirasi anak muda Jogja untuk berani melangkah.

Titik Balik di KPU Kabupaten Magelang
Perubahan besar datang pada rentang 2017–2019 ketika Yana lolos sebagai supporting staff di KPU Kabupaten Magelang. Di ruang-ruang rapat itulah bakat komunikasinya mulai terlihat, dengan cara yang tak biasa.
“Dulu setiap rapat aku tuh suka berisik di belakang, mengganggu teman-teman yang lain. Akhirnya dipercaya, ‘daripada kamu mengganggu rapat, mending kamu MC aja’. Dari situ aku belajar MC formal,” kenangnya sambil tertawa.
Pengalaman tersebut menjadi awal ia memahami dunia MC formal, sekaligus membentuk kepercayaan dirinya di depan publik.

Menempuh Pendidikan dan Mengasah Diri
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Yana kemudian menempuh pendidikan di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) untuk memperdalam kemampuan komunikasi.
Ia juga aktif di komunitas personality guna mempertajam keterampilan berbicara dan manajemen acara. Proses ini memperlihatkan bahwa menjadi MC profesional bukan sekadar soal tampil, tetapi juga disiplin belajar.
Langkah profesionalnya semakin mantap pada akhir 2022 saat dipercaya memandu acara Family Gathering sebuah perusahaan. Dari sana, jejaringnya berkembang hingga bekerja sama dengan lebih dari 150 vendor dalam berbagai acara, mulai dari roadshow brand, acara formal pemerintahan daerah dan nasional, gathering, corporate, wedding, hingga bilingual engagement MC.

Pesan untuk Anak Muda Jogja
Perjalanan Dwiyana Wijaya menunjukkan bahwa profesi MC profesional lahir dari konsistensi dan keberanian. Ia membagikan beberapa pesan bagi mereka yang merasa terjebak dalam situasi yang tidak nyaman.
Menurutnya, kegelisahan bisa menjadi bahan bakar untuk mencari peluang baru. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun portofolio, dan pengalaman lapangan (termasuk menjadi asisten senior) adalah ruang belajar yang tak tergantikan.
Kisah Yana menjadi cermin bagi Jogja sebagai kota kreatif dan pendidikan. Di tengah banyaknya anak muda yang mencari arah, perjalanan ini mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang berani.(Oi)














