Scroll untuk baca artikel
BudayaFavoriteLifestyle

Dari Selatan Jogja, Ruang Tawa Baru Tumbuh untuk Warga Bantul

×

Dari Selatan Jogja, Ruang Tawa Baru Tumbuh untuk Warga Bantul

Sebarkan artikel ini
Standup Indo ISI Yogyakarta hadir sebagai ruang komedi kreatif di selatan Jogja, mewadahi mahasiswa dan warga Bantul secara inklusif. foto: Istimewa

Bantul, VoiceJogja.com – Di selatan Yogyakarta, tawa menemukan ruang yang selama ini terasa jauh. Bukan di pusat kota, melainkan di Bantul, panggung komedi tumbuh sebagai ruang berekspresi baru bagi mahasiswa seni dan warga yang ingin menyuarakan kegelisahan hidup dengan cara jujur dan membumi.

Selama ini, denyut stand-up comedy di Yogyakarta kerap terpusat di wilayah utara kota. Jarak geografis dan sosial membuat tak sedikit warga selatan (termasuk mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta) merasa terpinggirkan dari ekosistem komedi yang ada. Dari kebutuhan akan ruang yang lebih dekat itulah Standup Indo ISI Yogyakarta tumbuh.

Komunitas ini hadir bukan sekadar sebagai wadah berkumpul para komika, melainkan sebagai ruang publik alternatif. Di wilayah Sewon, Bantul, tawa dirawat sebagai bahasa bersama, tempat kritik sosial, keresahan personal, dan pengalaman hidup sehari-hari diolah menjadi humor yang relevan dengan realitas warga.

Dipimpin Damlieyy, mahasiswa Jurusan Seni Teater semester enam asal Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Standup Indo ISI Yogyakarta kini memiliki sekitar 20 anggota aktif. Mereka rutin berkumpul di Lanjay Kopi, Panggungharjo, ruang sederhana yang bertransformasi menjadi laboratorium gagasan dan panggung ekspresi.

Di tempat itulah open mic digelar secara berkala. Panggungnya terbuka, tanpa sekat antara pemula dan yang lebih berpengalaman. Setiap bulan, sesi tampil dan berbagi materi menjadi bagian dari proses belajar bersama, menjadikan komedi tak berhenti sebagai hiburan, tetapi sebagai praktik kreatif yang terus diasah.

Kehadiran komunitas ini juga mencatat capaian. Pada akhir 2025, Damlieyy menjuarai Liga Tawa Season 3 yang digelar Standup Indo Jogja. Prestasi tersebut menjadi penanda bahwa ruang yang tumbuh dari selatan ini mampu melahirkan komika dengan daya saing di tingkat regional.

Namun bagi Damlieyy, yang lebih penting adalah pemerataan ruang berekspresi. Ia menuturkan bahwa banyak mahasiswa ISI dan warga Bantul selama ini terkendala jarak untuk aktif di komunitas stand-up yang berpusat di utara kota. Standup Indo ISI Yogyakarta lahir sebagai jawaban atas kebutuhan itu, menjadikan selatan Jogja sebagai panggungnya sendiri.

Meski membawa nama institusi seni, komunitas ini tidak membangun eksklusivitas. Siapa pun dipersilakan belajar dan tampil, tanpa latar belakang kampus tertentu. Komedi diperlakukan sebagai ruang bersama, bukan milik segelintir orang.

Bagi warga Bantul, kehadiran komunitas ini memberi warna baru dalam kehidupan kultural lokal. Tawa menjadi pintu masuk dialog, kritik, dan kebersamaan, sesuatu yang kerap luput dalam hiruk-pikuk kota.

Dari selatan Jogja, Standup Indo ISI Yogyakarta menunjukkan bahwa seni bisa tumbuh lebih dekat dengan warga. Bahwa panggung tak selalu harus berada di pusat, dan bahwa tawa, ketika dirawat bersama, bisa menjadi bentuk keberanian sekaligus perayaan hidup yang paling jujur.  (Ist)