Scroll untuk baca artikel
DaerahFavoriteLifestyle

Dari Potorono, Pardi Rawat Sesama Lewat SAR dan Terapi

×

Dari Potorono, Pardi Rawat Sesama Lewat SAR dan Terapi

Sebarkan artikel ini

Dari Potorono, semangat tolong-menolong tumbuh lewat aksi nyata.

Kisah Pardianto, relawan SAR Bantul yang memberi terapi Tibbun Nabawi gratis bagi warga sebagai wujud tolong-menolong. foto: Istimewa

Bantul, VoiceJogja.com – Langkahnya mungkin tak selalu terlihat, tetapi jejaknya terasa di banyak rumah warga. Di sela aktivitas sebagai relawan SAR Bantul, Pardianto memilih mengabdikan waktu dan tenaganya untuk membantu sesama tanpa tarif.

Warga Potorono, Banguntapan, ini meyakini bahwa menolong orang lain bukan sekadar pilihan, melainkan panggilan iman. Di tengah kebutuhan kesehatan dan kemanusiaan yang terus hadir di Jogja, kiprahnya menjadi pengingat tentang nilai kebersamaan.

Foto: Istimewa

Menguatkan Aksi Kemanusiaan 

Pardianto (37), yang akrab disapa Mas Pardi, baru satu tahun bergabung sebagai relawan SAR. Namun dedikasinya sudah terasa dalam berbagai aksi kemanusiaan.

Ia menyebut motivasinya sederhana dan religius: ta’awun atau saling tolong-menolong.

“Motivasi saya murni karena perintah Allah untuk ta’awun (tolong-menolong). Barang siapa memberi kemudahan bagi orang lain, maka akan diberi kemudahan di akhirat,” ungkapnya saat ditemui di sela kajian jelang buka puasa di Masjid KH Ahmad Dahlan, Jalan Pleret, Senin (23/2).

Bagi Pardi, menjadi relawan SAR Bantul adalah cara menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Terapi Tibbun Nabawi Tanpa Tarif

Sebelum aktif di SAR, Pardi telah lebih dulu menjadi relawan kesehatan berbasis Tibbun Nabawi. Ia menguasai teknik bekam, rukiah syar’iyyah, hingga terapi fisik lainnya.

Layanan tersebut ia berikan secara gratis bagi warga yang membutuhkan. Bahkan, ia kerap mendatangi rumah pasien melalui layanan home care.

“Insya Allah gratis. Saya tidak memasang tarif, cukup seikhlasnya saja. Intinya bagaimana kita bisa bermanfaat untuk sesama masyarakat,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan alternatif, kehadiran terapi gratis ini memberi ruang akses bagi warga yang mungkin terbatas secara ekonomi.

Foto: Istimewa

Ramadan dan Ruang Pengabdian

Saat Ramadan, Pardi turut membantu kegiatan di Masjid KH Ahmad Dahlan, Banguntapan. Masjid ini dikenal sebagai tempat persinggahan musafir dan rutin menggelar kajian menjelang berbuka puasa.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh agama, termasuk Ustaz Munasir Azis. Di sela aktivitas itu, Pardi tetap membuka diri bagi warga yang membutuhkan bantuan terapi.

Ia lebih memilih komunikasi personal melalui WhatsApp dan dari mulut ke mulut, karena saat ini mengurangi penggunaan media sosial.

“Mari kita saling bantu, sedikit ilmu yang saya punya semoga bisa jadi manfaat,” pungkasnya.

Di tengah dinamika sosial Bantul dan Jogja, kisah Pardianto menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu berbentuk besar dan ramai. Ada yang bekerja dalam senyap, menjaga nilai kemanusiaan tetap hidup, dari ruang ibadah hingga rumah-rumah warga.

Bagi Jogja, semangat seperti inilah yang merawat solidaritas: ketika relawan SAR dan terapi Tibbun Nabawi bertemu dalam satu niat, menghadirkan manfaat tanpa pamrih.(Oi)