Gunungkidul, VoiceJogja.com – Ponjong tidak sekadar merayakan usia seratus tahun Nahdlatul Ulama. Dari doa bersama, peletakan batu pertama, hingga kembul ingkung warga, harapan bagi peran NU di abad kedua ditanam, lebih membumi, menguatkan nilai, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Gunungkidul.
Suasana khidmat menyelimuti Kapanewon Ponjong saat Puncak Resepsi Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama digelar. Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, hadir membersamai warga dalam rangkaian kegiatan yang dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ponjong, dan ditutup dengan kembul bareng 50 ingkung di Kalurahan Sumbergiri.
Bagi warga dan pengurus NU setempat, peletakan batu pertama ini bukan sekadar seremoni. Ketua Panitia MWCNU Ponjong, Rojak Harudin, menyebut pembangunan gedung baru sebagai langkah strategis untuk memperkuat keberadaan organisasi di tingkat kecamatan. Menariknya, proses pembangunan dimulai tanpa modal awal, namun tumbuh dari kepercayaan dan gotong royong masyarakat.
Dukungan datang dari pengusaha lokal yang menjamin ketersediaan material bangunan. Menurut Rojak, hal tersebut menjadi bukti kuat bahwa semangat kebersamaan masih hidup dan bekerja nyata di tengah masyarakat. Antusiasme warga menjadi modal sosial yang diyakini mampu mendorong pembangunan gedung ini selesai tepat waktu.
Rangkaian acara juga dihadiri tokoh agama, jajaran pengurus NU, serta masyarakat Ponjong dan sekitarnya. Kehadiran mereka menandai komitmen kolektif untuk memperkuat sarana organisasi NU menjelang memasuki abad kedua pengabdiannya.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Gunungkidul menekankan bahwa satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama memiliki arti strategis bagi kehidupan berbangsa. NU dinilainya konsisten menjaga nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, memperkuat kebangsaan, serta merawat persatuan nasional dalam berbagai fase sejarah Indonesia.
Tema peringatan satu abad NU, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, disebut Joko Parwoto sebagai cerminan komitmen NU dalam menata masa depan bangsa. Dalam konteks lokal, pembangunan Gedung Kantor MWCNU Ponjong dipandang sebagai langkah visioner yang akan memperkuat dakwah moderasi beragama, kaderisasi, serta pelayanan sosial kemasyarakatan.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, lanjutnya, menempatkan kolaborasi dengan organisasi keagamaan (terutama NU) sebagai bagian penting dari strategi pembangunan daerah. Pembangunan tidak cukup bertumpu pada kebijakan administratif, tetapi juga memerlukan kekuatan nilai, etika sosial, dan keteladanan moral yang selama ini dijaga NU.
Visi pembangunan Gunungkidul diarahkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan berkelanjutan, pemerataan pembangunan wilayah, serta penguatan karakter sosial budaya masyarakat. Dalam kerangka itu, nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal yang dikembangkan NU dinilai relevan dan kontekstual.
Pemerintah daerah juga mendorong peran aktif NU dalam penguatan pendidikan keagamaan dan karakter generasi muda, pemberdayaan ekonomi umat berbasis komunitas, serta penguatan ketahanan sosial di tengah perubahan zaman. Pendekatan keagamaan yang moderat dan solutif dipandang penting untuk mencegah potensi konflik sosial.
Menurut Joko Parwoto, sinergi antara ulama dan umara menjadi fondasi agar pembangunan tetap berpihak kepada masyarakat. Dengan jaringan NU yang kuat hingga tingkat akar rumput, ia meyakini pembangunan di Gunungkidul dapat berjalan lebih efektif, inklusif, dan berkeadilan.
Menutup sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan ucapan selamat memperingati Harlah Nahdlatul Ulama ke-100 M, seraya berharap pembangunan Gedung Kantor MWCNU Ponjong berjalan lancar dan kelak menjadi pusat kebermanfaatan bagi umat dan masyarakat luas.
sumber: Gunungkidulkab.go.id














