Bantul, VoiceJogja.com – Di Bantul, keresahan tak selalu dipendam. Ia diolah, diceritakan, lalu ditertawakan bersama. Dari proses itulah Paseban (Panggung Stand Up Bantul) lahir sebagai ruang aman bagi anak-anak muda yang memilih humor sebagai cara berdamai dengan hidup.
Bagi sebagian orang, keresahan adalah beban yang melelahkan. Namun bagi para komika di Bantul, keresahan justru menjadi sumber energi kreatif. Dari sudut pandang inilah Paseban hadir, membangun ekosistem komedi yang dekat dengan realitas warga di selatan Yogyakarta.

Paseban tumbuh dari kebutuhan sederhana: memangkas jarak. Sebelum komunitas ini ada, banyak komika Bantul harus pergi ke pusat kota demi menemukan panggung. Kini, mereka memiliki rumah sendiri, tempat belajar, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
Komunitas ini pun telah melangkah lebih mantap dengan bernaung secara resmi di bawah Standupindo Jogja.
Lebih dari sekadar panggung hiburan, Paseban berfungsi layaknya laboratorium komedi. Setiap bit diuji, setiap kegelisahan dipoles agar mampu memantik tawa yang cerdas. Prosesnya berlangsung disiplin dan berkelanjutan melalui agenda rutin: dua kali open mic setiap bulan sebagai ruang uji materi, serta satu sesi sharing intensif bersama mentor dari Standupindo Jogja untuk membedah teknik dan sudut pandang komedi.
“Paseban hadir sebagai wadah untuk komika Bantul belajar dan mencoba materi stand up comedy-nya,” tutur Mizan Ansori, sosok di balik layar komunitas ini sekaligus Juara 1 Lomba Stand Up Karang Taruna Kabupaten Bantul 2024.
Bagi Mizan, yang juga akrab dengan dunia teater dan ketoprak, komedi tunggal adalah medium paling jujur. Di atas panggung, kegagalan dan kesedihan bisa diceritakan tanpa beban, lalu dilepaskan lewat tawa. Ada kelegaan yang tumbuh, baik bagi yang bercerita maupun yang mendengarkan.
“Di stand up itu kita bisa curhat dan berdamai dengan masalah kita sendiri. Yang paling penting, kita bisa menghibur orang lain,” ujarnya.

Nilai inilah yang membuat Paseban terasa relevan bagi kehidupan sosial Bantul. Di tengah tekanan hidup dan dinamika sehari-hari, humor menjadi jembatan empati. Tawa tak lagi sekadar hiburan, melainkan cara merawat kesehatan mental dan kebersamaan warga.
Paseban pun membuka pintu bagi siapa saja yang ingin mencoba. Tak ada seleksi rumit, cukup hadir di lokasi open mic, memesan jajan di kafe tempat acara berlangsung, dan berani memegang mikrofon. Dari situ, proses belajar dimulai.
Bagi warga Bantul yang ingin mengenal lebih dekat atau tertarik menjadi bagian dari perjalanan ini, informasi seputar kegiatan Paseban dapat diakses melalui akun Instagram @paseban_btl. Di panggung kecil ini, Bantul menemukan cara baru untuk menertawakan diri sendiri, dengan jujur, hangat, dan penuh makna.














