Kulon Progo, VoiceJogja.com – Kabut tipis masih menggantung di lereng Perbukitan Menoreh ketika suara burung bersahutan dari kebun-kebun rakyat. Di Desa Wisata Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo, pagi bukan sekadar awal hari, tetapi ruang belajar tentang harmoni manusia dan alam.
Bird watching di Jatimulyo bukan hanya aktivitas wisata, melainkan cara warga menjaga kekayaan hayati sekaligus menggerakkan ekonomi desa. Bagi Jogja, inilah wajah pariwisata yang tumbuh dari kesadaran konservasi.
Pengalaman Mengamati Burung Tanpa Pendakian Berat
Melalui paket bird watching berdurasi 2–3 jam, wisatawan diajak menyusuri jalur landai di area kebun rakyat. Tidak perlu mendaki curam, cukup berjalan santai sambil menikmati udara sejuk khas Menoreh.
Kegiatan diawali dengan briefing etika pengamatan di sekretariat KTH Wanapaksi Jatimulyo. Pendampingan dilakukan oleh pemandu lokal berpengalaman yang membantu peserta mengenali burung, termasuk melalui suara yang terdengar di alam.
Waktu terbaik mengikuti kegiatan ini adalah pukul 06.30–09.30 pagi atau 15.30–17.30 sore, saat burung paling aktif bergerak.
Rumah bagi Spesies Rndemik Jawa
Desa Wisata Jatimulyo dikenal sebagai desa ramah burung dengan kekayaan hayati yang menonjol. Beberapa spesies yang menjadi daya tarik utama antara lain Sulingan Jawa, Cekakak Jawa, dan Pelanduk Sema.
Selain itu, berbagai jenis burung madu dan raptor juga kerap terlihat. Keberadaan spesies-spesies ini menegaskan pentingnya menjaga habitat alami di Girimulyo.
Di tengah tekanan alih fungsi lahan di banyak wilayah, Jatimulyo menunjukkan bahwa konservasi berbasis masyarakat bukan sekadar wacana.
Wisata yang Menguatkan Konservasi
Pengalaman bird watching ditutup dengan diskusi hasil temuan dan obrolan santai sambil menikmati suguhan lokal. Suasana ini memperlihatkan bagaimana wisata, edukasi, dan ekonomi warga saling terhubung.
Bagi Kulon Progo dan Yogyakarta, model desa wisata seperti Jatimulyo menjadi contoh bahwa pembangunan pariwisata tidak harus mengorbankan lingkungan.
Ketika wisatawan datang untuk menikmati burung dan lanskap Menoreh, mereka sekaligus ikut mendukung pelestarian habitat. Dampaknya bukan hanya pada kunjungan wisata, tetapi pada keberlanjutan ekosistem yang menjadi aset jangka panjang Jogja.
Desa Wisata Jatimulyo hari ini bukan sekadar destinasi, melainkan pengingat bahwa masa depan Yogyakarta bertumpu pada keberanian warganya menjaga alam dengan cara yang bijak. (Oi)
Sumber: Kulonprogokab.go.id














