Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanDaerahFavoritePemerintahPeristiwa

Belum Ada Virus Nipah di Yogyakarta, Kewaspadaan Warga Tetap Jadi Kunci Kesehatan Kota

×

Belum Ada Virus Nipah di Yogyakarta, Kewaspadaan Warga Tetap Jadi Kunci Kesehatan Kota

Sebarkan artikel ini
Belum ditemukan virus Nipah di Yogyakarta. Dinkes memastikan situasi aman, sambil mengajak warga tetap waspada dan menerapkan perilaku hidup sehat. Foto: Dok warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, VoiceJogja.com – Yogyakarta boleh bernapas lega. Hingga kini, tidak ada temuan kasus virus Nipah di kota ini maupun di Indonesia. Namun, di tengah mobilitas manusia yang kian dinamis dan kedekatan geografis dengan negara-negara terdampak, kewaspadaan kolektif tetap menjadi fondasi utama menjaga kesehatan warga.

Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan memastikan situasi kesehatan masyarakat terkait virus Nipah masih terkendali. Penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia ini belum terdeteksi di wilayah kota maupun secara nasional. Meski demikian, kehati-hatian tetap dikedepankan, mengingat virus Nipah memiliki tingkat fatalitas tinggi dan reservoir alaminya, kelelawar buah, juga hidup di kawasan tropis seperti Indonesia.

Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, menjelaskan bahwa Indonesia berada di kawasan yang berdekatan dengan negara-negara yang pernah melaporkan kasus Nipah, antara lain Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kasus pertama tercatat di Malaysia pada akhir 1990-an, dan berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis serta deteksi virus pada kelelawar buah jenis Pteropus.

Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini. Pemantauan dilakukan secara rutin di seluruh puskesmas, terutama terhadap gejala klinis yang beririsan dengan infeksi Nipah, seperti Influenza Like Illness (ILI), ISPA akut, dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Hingga saat ini, tidak ditemukan tren peningkatan kasus yang mengarah pada virus tersebut.

Solikhin menuturkan, sempat terjadi kenaikan kasus ISPA pada akhir tahun lalu seiring munculnya isu “super flu”. Namun, lonjakan itu tidak signifikan dan tidak menunjukkan pola yang mengarah pada Nipah. Bagi jajaran tenaga kesehatan, kewaspadaan tetap dijaga melalui pelaporan cepat apabila ditemukan gejala mencurigakan, terutama demam tinggi akut yang disertai gangguan saraf seperti penurunan kesadaran atau kejang.

Virus Nipah dikenal menyerang sistem saraf dan otak, dengan tingkat kematian yang tinggi, berkisar 40 hingga 75 persen. Penularannya dapat terjadi dari hewan ke manusia maupun antarmanusia. Karena itu, upaya pencegahan di tingkat rumah tangga menjadi sangat penting.

Warga diimbau mencuci buah dengan bersih sebelum dikonsumsi, menghindari buah yang rusak atau bekas gigitan hewan, serta memasak nira atau air sadapan kelapa sebelum diminum. Daging ternak pun perlu diolah hingga benar-benar matang, dan hewan yang dicurigai terinfeksi sebaiknya tidak dikonsumsi.

Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Di luar aspek pangan, perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi pagar utama kesehatan kota. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker saat sakit atau berinteraksi dengan orang yang sedang sakit, terus dianjurkan. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak juga perlu mendapat perhatian lebih.

Bagi tenaga kesehatan, penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi dilakukan melalui penggunaan alat pelindung diri sesuai protokol. Semua langkah ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama agar Yogyakarta tetap aman, sehat, dan tangguh menghadapi potensi ancaman penyakit menular.

Dengan kewaspadaan yang proporsional dan kesadaran warga yang terus tumbuh, Yogyakarta diharapkan mampu menjaga kualitas hidup masyarakatnya, bukan dengan rasa panik, melainkan dengan pengetahuan, disiplin, dan kepedulian bersama.

sumber: Warta.jogjakota.go.id