Kulon Progo, Voicejogja.com – Pagi di Karangsewu terasa berbeda. Warga berkumpul, bekerja bersama, dari membangun talud hingga menata lingkungan, sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan nyata.
Bagi masyarakat Kulon Progo, Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang bertemunya harapan, tentang kesejahteraan, kebersamaan, dan masa depan kampung yang dibangun bersama.
Dari Infrastruktur ke Ketahanan Pangan
Pembukaan BBGRM 2026 digelar di Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, dan Kalurahan Krembangan, Kapanewon Panjatan.
Di Karangsewu, kegiatan diawali dengan peninjauan pembangunan talud di Bulak Cepadan yang berfungsi menjaga ketahanan jalan sekaligus memperlancar aliran irigasi.
Rangkaian berlanjut ke Padukuhan Bedoyo, tempat warga mengelola peternakan sapi dalam program ketahanan pangan.
Kegiatan kemudian dipusatkan di Rumah Dukuh Boro 2, diwarnai bazar UMKM serta penampilan seni dan budaya lokal.
Bantuan untuk Menggerakkan Ekonomi Warga
Sejumlah bantuan diserahkan secara simbolis, mulai dari program padat karya, CSR BUMKal Karangsewu, sarana budidaya ikan, hingga alat pertanian berupa traktor roda empat.
Selain itu, bibit kelapa bojong bulat juga diberikan untuk mendukung penguatan sektor pertanian.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong produktivitas sekaligus memperkuat ekonomi berbasis lokal.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, mengapresiasi keterlibatan aktif warga dalam setiap kegiatan.
“Saya bangga melihat kiprah masyarakat yang masih menjunjung tinggi gotong royong,” ujarnya.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Sosial
Menurut Agung, praktik seperti kandang komunal sapi menunjukkan bahwa gotong royong bukan sekadar konsep, tetapi nyata dirasakan manfaatnya.
“Kandang komunal ini menunjukkan bahwa gotong royong itu nyata,” katanya, menyoroti efisiensi dan kebersamaan dalam pengelolaan.
Peran perempuan juga terlihat melalui UMKM lokal, termasuk produk Wingko Boro khas Karangsewu yang terus dikembangkan.
“Ibu-ibu tidak tinggal diam, tetapi terus bergerak meningkatkan kesejahteraan,” tambahnya.
Dari Panjatan untuk Pemerataan Pembangunan
Di Kalurahan Krembangan, kegiatan BBGRM turut menyoroti pembangunan berbasis kebersamaan.
Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menegaskan bahwa gotong royong adalah kekuatan sosial dalam menghadapi tantangan pembangunan.
“Gotong royong bukan hanya budaya, tetapi kekuatan sosial yang mampu menjadi solusi,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan di Panjatan mencakup pembangunan RTLH, budidaya ikan di Mina Tirta Lestari, hingga peternakan ayam petelur.
Bantuan juga diberikan untuk jalan usaha tani, irigasi tersier, usaha lele, hingga dukungan bagi masyarakat penerima bantuan sosial.
Makna bagi Masa Depan Kulon Progo
BBGRM 2026 mengusung semangat pemerataan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
Bagi Kulon Progo, langkah ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dari partisipasi warga yang konsisten.
Ketika masyarakat terlibat langsung, pembangunan menjadi lebih berakar, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan nyata.
Di tengah perubahan zaman, gotong royong tetap menjadi fondasi yang menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi Kulon Progo.
Penutup
Dari Karangsewu hingga Krembangan, BBGRM 2026 memperlihatkan bahwa kekuatan terbesar sebuah daerah ada pada warganya.
Ketika gotong royong terus hidup, pembangunan bukan hanya berjalan, tetapi tumbuh bersama, menguatkan masa depan Kulon Progo dan Yogyakarta.(Oi)
Sumber: Kulonprogokab.go.id














