Bantul, Voicejogja.com – Pagi di Bantul tak lagi sekadar rutinitas membuang sampah. Kini, warga mulai dihadapkan pada kebiasaan baru: memilah sampah sejak dari rumah, demi lingkungan yang lebih sehat dan tertata.
Melalui sistem pengangkutan sampah terpilah, Bantul menata ulang cara warganya berinteraksi dengan sampah, bukan lagi sekadar dibuang, tapi dikelola bersama.
Sistem Baru, Tanggung Jawab Bersama
Pemerintah Kabupaten Bantul resmi menjalankan sistem pengangkutan sampah terpilah sejak Senin (4/5/2026). Program ini menekankan pemilahan sampah sejak dari sumber, yakni rumah tangga dan pelaku usaha.
Sekretaris Daerah Bantul, Agus Budiraharja, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan kelanjutan dari edukasi yang selama ini sudah diberikan kepada masyarakat. Warga diminta memilah sampah minimal menjadi dua jenis: organik dan anorganik.
Agar berjalan konsisten, pengangkutan dilakukan berbasis jadwal. Sampah organik diambil pada Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Sementara sampah anorganik diangkut pada Rabu dan Sabtu.
“Kita kan sudah mengajak masyarakat, masyarakat itu harus memilah. Tetapi masyarakat itu butuh sistem. Kalau kita tertib, hari ini ambil hanya yang organik, masyarakat lama-lama menyesuaikan,” ujar Agus.
Armada Disiapkan, Sistem Diperketat
Sebanyak 38 armada dan 114 tenaga kebersihan disiagakan untuk melayani 320 titik penjemputan. Setiap hari, sistem ini ditargetkan mampu mengangkut sekitar 50 hingga 60 ton sampah.
Pendekatan ini juga menghindari kebiasaan lama, di mana sampah yang sudah dipilah justru tercampur kembali saat pengangkutan. Kini, pemisahan dijaga sejak awal hingga masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Dengan alur yang lebih rapi, sampah organik dan anorganik bisa langsung diproses sesuai jenisnya. Proses pengolahan menjadi lebih cepat, sekaligus menekan risiko penumpukan.
“Dengan demikian semua menjadi lancar, semua menjadi terkelola dengan baik. Tidak ada timbulan sampah di TPST sehingga lancar dan tidak menimbulkan polusi-polusi bau, mikroba dan lain-lain,” jelas Agus.
Disiplin Jadi Kunci, Warga Mulai Menyesuaikan
Kebijakan ini tidak berhenti pada imbauan. Petugas kebersihan hanya akan mengambil sampah sesuai jenis dan jadwal. Jika sampah tidak dipilah, maka tidak akan diangkut.
Aturan ini menjadi sinyal kuat bahwa perubahan sistem harus diiringi perubahan perilaku. Dari rumah tangga hingga pasar, semua didorong untuk ikut beradaptasi.
Sukartana, salah satu tenaga kebersihan di pasar, melihat langsung dampaknya. Menurutnya, sampah yang tidak terpilah selama ini memperberat kerja dan merusak mesin pengolah.
“Karena kalau sampah tidak terpilah, di satu sisi mesin pengolah cepat rusak, di sisi lain akan terjadi penumpukan di TPST. Apalagi di pasar, banyak sekali sampah yang berasal dari luar. Semoga pasar bisa memilah sampah sendiri,” ungkapnya.
Menata Masa Depan Lingkungan Bantul
Langkah ini bukan sekadar soal teknis pengangkutan, melainkan perubahan cara pandang. Sampah tidak lagi dianggap akhir dari konsumsi, tetapi bagian dari siklus yang harus dikelola bersama.
Bagi Bantul, sistem ini menjadi pijakan menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Disiplin kecil di tingkat rumah tangga berpotensi memberi dampak besar bagi kesehatan lingkungan dan kualitas hidup warga.
Ketika warga mulai terbiasa memilah, dan sistem berjalan konsisten, Bantul sedang menulis ulang masa depan lingkungannya, lebih bersih, lebih tertib, dan lebih bertanggung jawab.(Oi)
Sumber: bantulkab.go.id














