Yogyakarta, Voicejogja.com – Di sudut Pasar Kuncen Yogyakarta, deretan barang lawasan sering kali menyimpan cerita panjang tentang masa lalu. Di antara para pedagang, sosok Bambang “Kacamata” dikenal bukan sekadar penjual klithikan, tetapi penjaga nilai dari benda-benda yang pernah dianggap usang.
Nama lengkapnya Ir. R. Bambang Suprantara Aribawa. Latar belakangnya sebagai seorang insinyur justru membawanya pada jalan hidup yang berbeda: memilih dunia klithikan sebagai ruang kemandirian sekaligus pengabdian.

Dari Dunia Nirokrasi ke Pasar Klithikan
Bambang menamatkan pendidikan sarjana pada tahun 1986 di Yogyakarta. Karier profesionalnya kemudian berjalan panjang di lingkungan pemerintahan.
Ia pernah mengabdi di Dinas Perkebunan dan Kehutanan Provinsi DIY selama 25 tahun, dari 1981 hingga 2006. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi hingga 2012.
Namun, jalan hidupnya mulai berubah ketika kecintaannya pada barang lawasan semakin kuat. Sekitar tahun 2000, ia mulai turun langsung ke dunia perdagangan klithikan.
Keputusan itu kemudian ditegaskan dengan memilih pensiun dini pada 2012 dari Dinas Pertanian Kota Yogyakarta agar dapat menekuni dunia klithikan secara penuh.
Menghidupkan Nilai dari Barang Lawasan
Bagi Bambang, barang klithikan bukan sekadar barang bekas. Setiap benda memiliki cerita dan nilai yang bisa dihidupkan kembali melalui ketelatenan merawatnya.
Ia dikenal memiliki kemampuan memperbaiki dan merestorasi barang lawasan hingga kembali bernilai.
“Barang klithikan itu kalau dapat yang bagus, kebanggaannya luar biasa. Contohnya kacamata Ray-Ban rusak; saya kondisikan lagi sampai seperti baru,” ujarnya.
Pandangan itu membuatnya melihat pasar klithikan bukan hanya ruang perdagangan, tetapi juga ruang pelestarian benda-benda bersejarah yang masih memiliki makna bagi pemilik berikutnya.

Motor Organisasi Pedagang Klithikan
Pengalaman organisasi Bambang sudah terbentuk sejak masa kuliah. Ia pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian, termasuk terlibat dalam kegiatan redaksi buletin mahasiswa.
Jejak organisasinya berlanjut ketika ia aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia terjun ke dunia pasar. Pada tahun 2005, Bambang menginisiasi pembentukan organisasi pedagang klithikan di Yogyakarta.
Organisasi itu menjadi ruang solidaritas bagi para pedagang, terutama saat menghadapi proses relokasi besar dari kawasan Mangkubumi ke Pasar Kuncen pada masa kepemimpinan Wali Kota Herry Zudianto.
Kemandirian sebagai Pilihan Hidup
Lahir di Bantul pada 15 Oktober 1960, Bambang melihat dunia klithikan sebagai ruang kemandirian ekonomi.
Menurutnya, perdagangan barang lawasan memberi kesempatan bagi banyak orang untuk tetap bertahan di tengah perubahan ekonomi.
Selain berdagang, ia juga tetap aktif di masyarakat. Bambang saat ini menjadi anggota BAMUSKAL Kalurahan Sabdodadi, Bantul untuk periode 2024–2032.
Bagi dirinya, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh integritas dan keberanian menjalani pilihan hidup.
Di tengah dinamika ekonomi kota, kisah Bambang menunjukkan bahwa Pasar Kuncen bukan sekadar ruang jual beli, tetapi juga tempat di mana ketekunan, sejarah, dan kemandirian hidup terus dirawat.(Oi)














