Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tengah hiruk pikuk Kota Yogyakarta, ruang seni kembali menemukan denyutnya lewat karya mahasiswa muda. Pameran visual di JNM Bloc bukan sekadar ajang memamerkan karya, tetapi juga ruang refleksi tentang hubungan manusia, budaya, dan lingkungan hidup.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, bahkan membuka peluang agar Balai Kota menjadi ruang ekspresi seni bagi mahasiswa dan komunitas kreatif. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga Jogja tetap hidup sebagai kota budaya sekaligus kota pendidikan.
Mahasiswa Didorong Tampil di Ruang Publik
Pameran Visual “Hayuning Collective” karya mahasiswa Program Studi S1 Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta resmi dibuka di JNM Bloc, Kamis (7/5/2026). Pameran tersebut berlangsung hingga 11 Mei 2026.
Dalam pembukaan pameran, Wawan Harmawan mengapresiasi keberanian mahasiswa menghadirkan ruang seni yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, karya seni mahasiswa tidak seharusnya hanya dipamerkan di lingkungan kampus, tetapi juga hadir di ruang publik agar lebih dekat dengan warga.
“Jogja adalah Kota Budaya, Kota Pendidikan, dan Kota Toleransi. Kami ingin Balai Kota Yogyakarta juga menjadi ruang yang hidup bagi anak-anak muda dan para seniman untuk berekspresi,” ujarnya.
Ia bahkan mempersilakan mahasiswa menggunakan Balai Kota untuk berbagai bentuk pameran seni, mulai dari lukisan, instalasi, hingga bonsai.
Filosofi Bonsai dan Merawat Kehidupan
Dalam sambutannya, Wawan juga menyoroti filosofi bonsai yang menjadi salah satu inspirasi dalam pameran tersebut. Menurutnya, bonsai menggambarkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan pengorbanan hingga akhirnya memiliki nilai seni tinggi.
Nilai itu dianggap sejalan dengan perjalanan kreatif para seniman muda yang sedang membangun identitas dan keberanian berkarya di ruang publik.
“Mahasiswa harus berani tampil di ruang publik. Nanti kalau di Balai Kota, sekalian dites mentalnya supaya lebih percaya diri,” katanya.
Kurator pameran, Rahma Tussofiyah, menjelaskan bahwa tema “Urip Iku Mung Mampir Ngombe” terinspirasi dari filosofi bonsai dan falsafah Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana”.
Tema tersebut menjadi refleksi tentang pentingnya merawat kehidupan, menjaga keseimbangan, dan menghadirkan kebaikan secara berkelanjutan.
“Kami meminjam bonsai sebagai metafora praktik merawat yang telaten. Kebaikan kecil mungkin tidak langsung terlihat dampaknya, tetapi jika dirawat dengan konsisten akan tumbuh menjadi sesuatu yang indah,” jelasnya.
Seni, Lingkungan, dan Masa Depan Jogja
Sebagian besar karya dalam pameran memanfaatkan konsep upcycling dan karya temporer yang dapat didaur ulang atau kembali menyatu dengan lingkungan.
Pendekatan itu memperlihatkan bagaimana seni visual hari ini tidak hanya berbicara soal estetika, tetapi juga kepedulian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.
Dosen pengampu mata kuliah Tata Kelola Seni, Mikke Susanto, menyebut kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem budaya Yogyakarta.
Menurutnya, Kota Yogyakarta membutuhkan semakin banyak sumber daya manusia di bidang tata kelola seni, terutama di tengah berkembangnya museum, galeri, ruang kreatif, dan event budaya di DIY.
“Pameran seperti ini menjadi bagian penting dalam ekosistem budaya Yogyakarta. Dari kegiatan kecil mahasiswa seperti ini, dampaknya bisa menyebar luas dan memperkuat identitas Jogja sebagai kota seni dan kota festival,” ungkapnya.
Penutup
Di Yogyakarta, seni tidak hanya hidup di galeri atau ruang kampus. Ia tumbuh di tengah masyarakat, menyatu dengan ruang kota, dan menjadi cara generasi muda menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Ketika Balai Kota mulai dibuka sebagai ruang ekspresi kreatif, Jogja kembali menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi hidup untuk masa depan kota.(Oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id














