Scroll untuk baca artikel
BisnisDaerahEkonomiFavoriteKulinerLifestyle

Bakso Huh Hah Bangkit dari Mati Suri, Aroma Pedasnya Kembali Ramaikan Lapangan Kembangsongo

×

Bakso Huh Hah Bangkit dari Mati Suri, Aroma Pedasnya Kembali Ramaikan Lapangan Kembangsongo

Sebarkan artikel ini
Bakso Huh Hah bangkit dari mati suri akibat pandemi dan kini kembali eksis di Lapangan Kembangsongo Bantul dengan konsep baru. foto: Istimewa

Bantul, VoiceJogja.com – Di tengah riuh senja Bantul, aroma pedas Bakso Huh Hah kembali menyapa warga. Usaha yang sempat terhenti akibat pandemi ini kini bangkit dengan konsep lebih sederhana, membawa cerita tentang ketekunan dan harapan yang tak padam.

Dunia kuliner Bantul kembali diramaikan oleh Bakso Huh Hah, usaha yang dirintis Rafi Zudhatama bersama sang istri. Setelah sempat terhenti karena dampak pandemi COVID-19, brand yang dulu akrab di kalangan anak muda ini kembali menemukan momentumnya.

Perjalanan Bakso Huh Hah bermula pada Oktober 2017 di Pedukuhan Bembem, Dusun Jetis. Rafi mengenang masa itu sebagai fase “babat alas”, memperkenalkan konsep bakso pedas dengan pendekatan yang dekat dengan kaum milenial. Respons pasar terbilang cepat; dalam hitungan bulan, namanya viral dan berkembang pesat.

Ekspansi pun dilakukan. Pertengahan 2018, cabang kedua dibuka di Lapangan Demi, Imogiri. Setahun berikutnya, cabang ketiga hadir di area RS Panembahan Senopati Bantul. Tiga gerai yang beroperasi di dalam ruko berjalan sesuai harapan dan menjadi bagian dari dinamika kuliner lokal.

Namun situasi berubah saat pandemi melanda. Omzet menurun drastis. Satu per satu gerai ditutup hingga menyisakan satu lokasi di Imogiri. Kondisi yang stagnan membuat Rafi mengambil keputusan berat menutup total Bakso Huh Hah pada akhir 2023.

Foto: Istimewa

Harapan kembali tumbuh di penghujung 2024. Dengan tekad yang tak surut, Rafi menghidupkan kembali usaha tersebut dengan konsep berbeda.

Jika sebelumnya mengandalkan ruko, kini Bakso Huh Hah hadir lebih sederhana melalui tenda portabel dan gerobak. Konsep ini dipilih agar lebih fleksibel sekaligus menekan beban operasional.

Sambutan warga menjadi energi tersendiri. Pelanggan lama kembali datang. Ada yang dulu masih berseragam sekolah, kini hadir bersama pasangan dan anak mereka. Sebuah penanda bahwa usaha kecil juga menyimpan jejak kenangan bagi masyarakat.

Kini Bakso Huh Hah menetap di Lapangan Kembangsongo, Trimulyo, setiap Senin hingga Sabtu pukul 17.00–21.00 WIB. Pada Minggu pagi, mereka hadir di Sunmor Stadion Sultan Agung (SSA) pukul 06.30–11.30 WIB. Menu andalan seperti bakso tusuk, tahu walik, hingga es capcin tetap menjadi daya tarik.

Kisah kebangkitan ini bukan sekadar tentang kuliner pedas. Ia menjadi cermin ketahanan pelaku UMKM Bantul yang berani memulai kembali dari nol.

Di tengah dinamika ekonomi, semangat untuk terus berusaha dan beradaptasi menjadi kunci agar roda kecil ekonomi lokal tetap berputar. Jogja, dengan segala ruang dan kebersamaannya, selalu memberi tempat bagi mereka yang ingin bangkit.