Bantul, Voicejogja.com – Terik matahari tak menyurutkan langkah warga di Mangiran, Trimurti. Ratusan orang berkumpul, menyatu dalam iring-iringan budaya yang telah dijaga lintas generasi.
Bakda Mangiran bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi ruang bersama untuk merawat ingatan, syukur, dan jati diri warga Bantul.
Kirab Budaya yang Sarat Makna
Sejak pertengahan hari, kawasan Mangiran mulai dipadati warga yang ingin menyaksikan kirab upacara adat. Antusiasme terasa kuat, seolah setiap langkah menjadi bagian dari cerita panjang kampung.
Tradisi ini digelar beberapa hari setelah Idulfitri sebagai ungkapan syukur usai menjalani Ramadan. Wujudnya tampak dalam kenduri dan gunungan yang menjadi simbol berbagi rezeki.
Bakda Mangiran sendiri telah berlangsung sejak dekade 1930-an, menjadikannya bagian penting dari sejarah sosial masyarakat setempat.
Jejak Leluhur dalam Setiap Prosesi
Kirab dimulai dari Pendopo Atemorejan menuju Kompleks Makam Caturloyo Mangiran. Perjalanan ini bukan sekadar rute, tetapi pengingat asal-usul kampung.
Lurah Trimurti, Agus Purwaka, menyebut bahwa Mangiran berakar dari sosok Kyai Mangirana dan Nyai Mangirana, yang menjadi titik awal kehidupan warga.
Di sepanjang kirab, berbagai ubarampe diarak, mulai dari nisan simbolik, sesaji, hingga gunungan hasil bumi dan pangan lokal.
Doa, Seni, dan Kebersamaan
Prosesi diawali dengan penampilan Beksan Kriyo Manggala, tarian hasil kreativitas seniman Trimurti yang terinspirasi dari kesenian reog. Gerak dinamis penari membuka ruang sakral sekaligus meriah.
Sesampainya di makam, suasana berubah hening. Doa bersama dipanjatkan, menjadi inti dari umbul doa bagi leluhur agar mendapat tempat terbaik.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, menegaskan bahwa tradisi ini menyimpan nilai kebersamaan dan gotong royong yang penting dijaga.
“Ini adalah warisan budaya yang baik dan wajib dilestarikan,” ujarnya.
Dari Syukur Menjadi Daya Hidup Budaya
Setelah doa, suasana beralih menjadi penuh kegembiraan. Tarian ledek menghidupkan ruang, diikuti momen rayahan gunungan yang selalu dinanti warga.
Dalam hitungan waktu singkat, hasil bumi yang tersusun rapi itu habis diperebutkan, menjadi simbol rezeki yang dibagi bersama.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2024 menegaskan bahwa Bakda Mangiran bukan sekadar agenda budaya, tetapi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini terus hidup, menghubungkan masa lalu, hari ini, dan masa depan Jogja dalam satu tarikan rasa yang sama.(Oi)
Sumber: bantulkab.go.id














