Scroll untuk baca artikel
DaerahBerita UnggulanEkonomiFavorite

Anak SMK di Bantul Ini Buktikan Bertani Melon Premium Bisa Menjanjikan

×

Anak SMK di Bantul Ini Buktikan Bertani Melon Premium Bisa Menjanjikan

Sebarkan artikel ini

Dari rumah kaca di Bantul, anak-anak muda mulai melihat pertanian sebagai masa depan yang menjanjikan.

SMK Negeri 1 Pandak Bantul kembangkan melon premium hidroponik untuk mencetak petani milenial dan memperkuat ketahanan pangan.
SMK Negeri 1 Pandak Bantul kembangkan melon premium hidroponik untuk mencetak petani milenial dan memperkuat ketahanan pangan. Foto: Dok bantulkab.go.id

Bantul, Voicejogja.com Di tengah kekhawatiran makin sedikitnya anak muda yang tertarik bertani, suasana berbeda justru terlihat di rumah kaca SMK Negeri 1 Pandak, Bantul. Murid-murid sekolah kejuruan itu tampak sibuk merawat tanaman melon premium, memeriksa tunas, hingga memastikan tingkat kemanisan buah tetap terjaga.

Bagi mereka, pertanian bukan lagi pekerjaan lama yang ditinggalkan generasi muda. Lewat budidaya melon premium hidroponik, dunia tani justru terasa modern, kreatif, dan punya nilai ekonomi tinggi.

Menjawab Krisis Regenerasi Petani

Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan mayoritas petani Indonesia berada pada rentang usia 43-58 tahun. Jumlah petani milenial masih relatif sedikit, sementara sebagian lainnya sudah memasuki usia lanjut.

Kondisi itu menjadi perhatian SMK Negeri 1 Pandak yang berada di Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul. Sekolah ini mulai mendorong lahirnya generasi petani muda melalui inovasi budidaya melon premium hidroponik di dalam green house.

Sejak 2024, dua varietas melon premium, yakni sweet hami dan golden kirin, dibudidayakan langsung oleh murid Program Studi Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura.

“Kami memang ingin mencetak petani-petani milenial yang nanti siap bertani dan mengedukasi petani konvensional. Dan anak-anak kita ini sejak tahun pertama juga sudah terjun di lapangan,” ujar Kepala SMK Negeri 1 Pandak, Sri Mulyani, Kamis (7/5/2026).

Dari Tidak Tertarik Jadi Ingin Bertani

Salah satu siswi kelas 11, Amanda Tasya, mengaku awalnya tidak memiliki ketertarikan khusus pada sektor pertanian. Namun setelah masuk jurusan agribisnis, pandangannya berubah.

Kini Amanda justru bercita-cita memiliki lahan sendiri dan membagikan ilmu pertanian kepada masyarakat sekitar.

Ia menjelaskan, proses budidaya melon premium membutuhkan ketelatenan sejak tahap penyemaian hingga panen.

“Awalnya disemai dulu selama 15 hari. Setelah itu dipindah tanam. Pohonnya kita lilit dengan tali agar tidak patah. Setelahnya, kami lakukan polinasi atau penyerbukan. Itu proses mengawinkan bunga jantan dan bunga betina agar jadi melon,” jelas Amanda.

Menurutnya, salah satu tahap paling penting adalah memotong tunas air setiap hari agar kadar kemanisan melon tetap terjaga.

“Setelah polinasi itu biasanya tumbuh tunas air. Itu kita potong setiap hari. Karena kalau telah dua hari saja, kadar manisnya akan berkurang,” imbuhnya.

Open Farm dan Nilai Ekonomi Baru

Selain menjadi sarana belajar, budidaya melon premium ini juga membuka ruang interaksi dengan masyarakat melalui konsep open farm. Saat panen tiba, warga dapat ikut memetik melon langsung dari rumah kaca.

Melon sweet hami dan golden kirin dijual dengan harga Rp30 ribu per kilogram. Keduanya dikenal memiliki rasa manis alami tanpa tambahan pestisida. Perbedaannya terletak pada warna kulit dan tekstur daging buah.

Sweet hami memiliki kulit hijau, sementara golden kirin berwarna kuning semi oranye dengan tekstur lebih renyah.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, yang meninjau langsung rumah kaca tersebut menilai inovasi ini menjadi langkah penting untuk menarik minat petani milenial sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Sistem hidroponik ini sangat efisien. Hasilnya juga baik. Rasa melonnya manis, dagingnya renyah. Punya nilai ekonomi yang tinggi. Ini sangat bagus untuk menggaet petani milenial serta mendukung ketahanan pangan Kabupaten Bantul,” ucap Aris.

Penutup

Di tengah perubahan zaman dan tantangan regenerasi petani, langkah kecil dari rumah kaca SMK Negeri 1 Pandak menunjukkan bahwa pertanian masih memiliki masa depan. Ketika anak muda mulai melihat sawah dan rumah kaca sebagai ruang inovasi, Jogja sedang menanam harapan baru bagi ketahanan pangan dan ekonomi lokal.(Oi)

Sumber: bantulkab.go.id