Lampung, Voicejogja.com – Dua anak harimau lahir dari induk yang pernah terluka oleh jerat manusia. Kisah ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi pengingat tentang rapuhnya kehidupan satwa liar yang bergantung pada kepedulian manusia.
Bagi warga Yogyakarta yang akrab dengan edukasi satwa dan ruang konservasi, kelahiran Harimau Sumatera ini menjadi sinyal harapan, bahwa upaya pelestarian masih punya masa depan jika dijaga bersama.
Lahir dari Luka, Tumbuh Jadi Harapan
Kementerian Kehutanan mengabarkan kelahiran dua individu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau, Lampung.
Keduanya merupakan anak dari Kyai Batua dan Sinta, harimau hasil penyelamatan akibat konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar.
Kyai Batua sebelumnya ditemukan dalam kondisi terjerat di Lampung Barat pada Juli 2019 hingga harus menjalani amputasi kaki depan kanan. Sementara Sinta diselamatkan dari Bengkulu pada Desember 2024 dengan luka serupa pada kaki belakang.
Di bawah pengawasan tim medik veteriner, kedua anak harimau kini tumbuh sehat di usia tiga bulan.
Kolaborasi Jadi Kunci Konservasi
Proses perkawinan kedua induk dilakukan berdasarkan rekomendasi Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV 2024/2025, bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).
Keberhasilan ini menjadi kelahiran pertama Harimau Sumatera secara ex situ di Provinsi Lampung, sekaligus indikator positif pengelolaan konservasi di luar habitat alami.
Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan spesies ini.
“Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga konservasi, serta parapihak yang terlibat,” ujarnya.
Ancaman Nyata di Alam Liar
Di balik kelahiran ini, ancaman terhadap Harimau Sumatera masih nyata. Jerat dan perburuan ilegal terus menjadi risiko serius bagi populasi di habitat alaminya.
Upaya konservasi tidak hanya berfokus pada peningkatan populasi, tetapi juga pencegahan ancaman yang sama agar tidak terus berulang.
Lembaga konservasi menegaskan pentingnya pengelolaan berbasis kesejahteraan satwa (animal welfare) sebagai bagian dari keberlanjutan program.
Relevansi untuk Jogja
Yogyakarta memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik tentang pelestarian satwa. Kebun binatang, komunitas pecinta lingkungan, hingga institusi pendidikan menjadi ruang belajar bagi generasi muda.
Kelahiran Harimau Sumatera ini bisa menjadi bahan refleksi bahwa pelestarian bukan hanya tugas lembaga, tetapi juga masyarakat luas.
Kesadaran terhadap isu satwa liar, termasuk dampak aktivitas manusia seperti jerat dan perburuan, menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
Menjaga yang Tersisa
Dua anak harimau yang lahir hari ini membawa lebih dari sekadar angka populasi. Mereka membawa harapan bahwa spesies yang terancam masih bisa bertahan.
Bagi Jogja, menjaga kesadaran ini berarti menjaga masa depan, bahwa manusia dan alam bisa tetap berjalan berdampingan, tanpa saling menghilangkan.(Oi)
Sumber: Kementerian Kehutanan














