All England, VoiceJogja.com – Ketegangan terasa hingga poin-poin akhir di arena All England 2026, Birmingham. Pasangan Hee Yong Kai Terry/Gloria Emanuelle Widjaja memberi perlawanan sengit sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan unggulan pertama asal China.
Laga babak 32 besar itu bukan sekadar soal menang atau kalah. Bagi publik bulu tangkis Indonesia, penampilan Gloria di All England 2026 menjadi cermin bahwa regenerasi dan adaptasi pasangan baru tetap punya daya saing di level tertinggi.
Tumbang di Tiga Gim Ketat
Menghadapi Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (1/China), Terry/Gloria sempat merebut gim pertama 21-18. Namun dua gim berikutnya berakhir 18-21 dan 19-21 untuk kemenangan pasangan China.
Terry mengakui hasil tersebut mengecewakan, meski ia menegaskan sudah berjuang maksimal.
“Pasti kecewa tidak bisa menang tapi kami sudah mencoba 100%, kami fight setiap poin tapi di akhir-akhir memang saya kurang tenang,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak undian keluar mereka sadar laga ini tidak mudah. Namun keyakinan untuk tetap menikmati setiap poin menjadi bekal utama saat turun ke lapangan.
Point Krusial Jadi Pembeda
Gloria Emanuelle Widjaja menilai peluang menang sebenarnya terbuka, terutama di poin-poin krusial.
“Pasti di poin krusial itu kan kami berpikir ada peluang (untuk menang), kami pasti mau ambil tapi kami tidak bisa kontrol kemauannya. Jadi mainnya kurang tenang, kurang pas sentuhannya. Lebih non-teknisnya tapi secara keseluruhan kami sudah mencoba yang terbaik. Penyesalannya mungkin di poin akhir saja tidak bisa take over,” kata Gloria.
Pertandingan ini menunjukkan selisih tipis antara pasangan baru dengan unggulan utama dunia. Detail kecil dan ketenangan menjadi faktor pembeda.
Adaptasi dan Pelajaran Baru
All England 2026 menjadi turnamen keempat Gloria bersama Terry. Ia menyebut pengalaman ini sebagai bagian dari proses belajar.
“Empat turnamen bersama Terry menjadi pengalaman yang baru untuk saya dan mungkin juga untuk dia. Dengan typical mindset yang berbeda, antara saya dengan Terry, dengan pelatih saya dan dengan pelatih dia Terry jadi itu bisa jadi pelajaran baru buat saya dan jadi bagian sejarah cerita kehidupan. Senang sih,” ungkapnya.
Menariknya, di laga ini mereka mendapat dukungan Goh Soon Huat dan pelatihnya yang hadir mendampingi, karena pelatih utama tidak bisa datang ke Birmingham.
Bagi pecinta bulu tangkis Indonesia, kiprah Gloria di All England selalu menyimpan harapan. Meski belum melangkah lebih jauh, performa di laga ketat melawan unggulan pertama menjadi sinyal bahwa kombinasi baru ini punya fondasi untuk berkembang.
All England 2026 memang belum menghadirkan kemenangan bagi Terry/Gloria. Namun dari pertandingan seperti inilah mental, chemistry, dan ketahanan dibangun, modal penting menuju turnamen-turnamen berikutnya.(Oi)
Sumber: pbsi.id














