Scroll untuk baca artikel
FavoritePemerintahPendidikan

21 Kepala Sekolah Gunungkidul Kembali Jadi Guru

×

21 Kepala Sekolah Gunungkidul Kembali Jadi Guru

Sebarkan artikel ini

Transisi jabatan, penguatan peran guru di ruang kelas.

Sebanyak 21 kepala sekolah Gunungkidul kembali menjadi guru. Transisi ini memperkuat peran guru dalam menghadapi tantangan pendidikan dan sosial. foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Gunungkidul, VoiceJogja.com – Ruang Handayani di kompleks Setda Gunungkidul terasa khidmat pagi itu. Surat keputusan diserahkan, bukan untuk promosi jabatan, melainkan untuk kembali ke ruang kelas, tempat panggilan seorang pendidik bermula.

Sebanyak 21 kepala sekolah di Gunungkidul resmi kembali menjadi guru. Di balik keputusan ini, ada pesan kuat tentang arah pendidikan dan masa depan generasi muda Bumi Handayani.

Kembali ke Ruang Kelas

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pendidikan menyerahkan SK kepada 21 kepala sekolah yang kini kembali mengemban tugas sebagai guru. Prosesi dipimpin Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, didampingi jajaran pejabat daerah.

Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati, menjelaskan bahwa 21 orang tersebut terdiri dari 20 kepala sekolah SD dan satu kepala sekolah SMP.

Mereka telah menyelesaikan masa bakti selama empat periode atau setara 16 tahun. Transisi ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi baru yang membatasi masa jabatan kepala sekolah.

“Secara regulasi memang beliau terkena aturan ini… ini bukan sebuah tindakan hukuman, memang aturannya seperti itu,” tegas Nunuk.

Jabatan dan Panggilan Jiwa

Dalam arahannya, Bupati Endah menekankan bahwa peralihan ini bukan sekadar administrasi.

“Jabatan kepala sekolah adalah amanah kepemimpinan sementara, sedangkan guru adalah panggilan jiwa,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa inti pendidikan tetap berada di ruang kelas. Guru menjadi jantung proses belajar, berinteraksi langsung dengan peserta didik dan membentuk karakter sejak dini.

Bagi Gunungkidul, penguatan peran guru berarti memperkuat fondasi pendidikan di tingkat paling dasar.

Menjawab Tantangan Sosial

Bupati juga menyinggung tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari kemiskinan, judi online, hingga kasus bunuh diri.

Menurutnya, pendidikan menjadi pondasi utama pembangunan daerah. Guru memegang tanggung jawab besar dalam menanamkan disiplin, literasi, dan karakter agar siswa tidak terjerumus dalam perilaku negatif.

“Di tangan Bapak/Ibu semua, akan lahir generasi yang menentukan masa depan Gunungkidul. Peran Bapak/Ibu sebagai guru sangat strategis dan mulia,” tambahnya.

Foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Isu-isu sosial tersebut menjadikan peran guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi pembimbing nilai dan ketahanan mental anak-anak.

Regenerasi Kepemimpinan Sekolah

Dinas Pendidikan Gunungkidul menyampaikan bahwa proses pengisian jabatan kepala sekolah yang kosong sedang berlangsung.

Berbeda dari tahun sebelumnya, calon kepala sekolah kini harus memiliki sertifikat calon kepala sekolah serta mengikuti pelatihan melalui program guru penggerak.

Langkah ini menunjukkan bahwa manajemen sekolah ke depan diarahkan lebih profesional, dengan standar kompetensi yang jelas.

Bagi masyarakat Gunungkidul, proses ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Menguatkan Arah Pendidikan Gunungkidul

Peristiwa ini bukan sekadar pergantian jabatan. Ia adalah penegasan bahwa pendidikan di Gunungkidul bertumpu pada kualitas guru dan keteladanan.

Di ruang kelas, para guru kembali menjadi sosok yang digugu lan ditiru, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di tengah keluarga dan masyarakat.

Di sanalah masa depan Gunungkidul dibentuk, pelan namun pasti.(Oi)

Sumber: Gunungkidulkab.go.id