Scroll untuk baca artikel
NasionalEkonomiFavoritePendidikan

118 BEM dan Mentan Bahas Masa Depan Pertanian

×

118 BEM dan Mentan Bahas Masa Depan Pertanian

Sebarkan artikel ini

Mahasiswa diajak mengawal pangan, ekonomi desa, hingga hilirisasi.

118 BEM berdialog dengan Mentan Amran membahas pangan, MBG, Kopdes, hingga masa depan pertanian nasional.
118 BEM berdialog dengan Mentan Amran membahas pangan, MBG, Kopdes, hingga masa depan pertanian nasional. Foto: M.Digi

Jakarta, Voicejogja.com Suasana dialog antara mahasiswa dan pemerintah terasa hidup saat 118 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai daerah bertemu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta. Di tengah isu pangan, ekonomi desa, dan masa depan pertanian nasional, suara generasi muda mendapat ruang untuk bertanya, mengkritik, sekaligus mengawal arah kebijakan.

Bagi Yogyakarta sebagai kota pelajar, pertemuan ini menjadi gambaran bahwa mahasiswa bukan hanya penonton pembangunan, tetapi bagian penting dari masa depan ketahanan pangan Indonesia.

Dialog Terbuka antara Mahasiswa dan Pemerintah

Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (6/5/2026) itu membahas berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari pembangunan pertanian, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

Diskusi berjalan dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa yang menyampaikan pertanyaan, kritik, dan laporan lapangan secara langsung.

Forum beberapa kali diwarnai seruan semangat dari mahasiswa, mencerminkan tingginya antusiasme generasi muda dalam mengawal kebijakan publik dan sektor pertanian.

“Saya salut pada BEM, mahasiswa yang hadir hari ini. Cukup kritis tapi konstruktif,” ujar Mentan Andi Amran Sulaiman.

MBG dan Kopdes Disebut Gerakkan Desa

Dalam forum tersebut, Mentan Amran menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, tetapi juga berdampak pada ekonomi desa.

Program itu disebut menjadi pasar bagi hasil produksi petani dalam negeri sekaligus menggerakkan rantai ekonomi lokal.

“MBG ini jangan dilihat berdiri sendiri. Ini menjadi offtaker bagi 160 juta petani Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan Koperasi Desa Merah Putih sebagai strategi memperpendek rantai distribusi pangan.

Menurut Amran, rantai distribusi yang terlalu panjang selama ini membuat keuntungan lebih banyak dinikmati perantara dibanding petani.

Mahasiswa disiapkan jadi penerus pertanian nasional. Kolaborasi dan hilirisasi jadi kunci masa depan pangan.
Mahasiswa disiapkan jadi penerus pertanian nasional. foto: M.Digi

Swasembada dan Cadangan Pangan Jadi Sorotan

Dalam dialog itu, Mentan Amran juga memaparkan capaian sektor pertanian nasional yang disebut mengalami penguatan signifikan.

Ia menyebut stok beras nasional kini mencapai lebih dari 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

“Stok kita beras tertinggi selama merdeka, 5 juta ton lebih,” tegasnya.

Data tersebut, menurutnya, menunjukkan penguatan produksi, logistik, dan cadangan pangan nasional di tengah tekanan global.

Ia juga menjelaskan bahwa menurut standar FAO, Indonesia telah memenuhi kriteria swasembada pangan karena impor pangan pokok berada di bawah 10 persen dari kebutuhan nasional.

Mahasiswa Diminta Awasi Sektor Pertanian

Selain membahas capaian, forum juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap praktik ilegal di sektor pangan.

Mahasiswa menyampaikan sejumlah temuan di lapangan, termasuk dugaan distribusi pupuk bermasalah dan peredaran bawang ilegal.

Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang transparansi dan tidak akan memberi toleransi terhadap mafia pangan.

“Ada koruptor, kita penjarakan. Di sektor pertanian sudah 76 tersangka,” ujarnya.

Hilirisasi dan Energi Jadi Arah Masa Depan

Transformasi pertanian juga diarahkan pada hilirisasi komoditas strategis seperti sawit, kopi, kakao, dan kelapa.

Program ini dinilai membuka peluang investasi besar sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di berbagai daerah.

Selain pangan, pemerintah juga mulai mendorong kemandirian energi melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol.

Menurut Mentan Amran, pembangunan sektor pertanian harus dilakukan melalui kolaborasi lintas generasi.

“Negara ini tidak bisa kita bangun sendiri. Harus kolaborasi,” katanya.

Penutup
Bagi Yogyakarta yang tumbuh sebagai ruang lahirnya gagasan dan gerakan mahasiswa, dialog ini menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya dibentuk di sawah dan kebijakan, tetapi juga melalui keberanian generasi muda menjaga arah pembangunan bangsa.(Oi)

Sumber: Kementerian Pertanian